Hawking : Manusia Harus Jadikan Planet Lain Koloni

Hawking : Manusia Harus Jadikan Planet Lain Koloni

Manusia harus bisa menjadikan planet-planet di sistem tata-surya lain sebagai koloninya dan melakukan perjalanan ke sana dengan menggunakan daya dorong seperti “Star Trek”, atau menghadapi kepunahan, kata ahli kosmologi terkenal Inggris, Stephen Hawking, Kamis.

Menunjuk pada teori-teori rumit dan kecepatan cahaya, Hawking, fisikawan Universitas Cambridge yang menggunakan kursi roda, mengatakan kepada BBC, kemajuan teori bisa merevolusi kecepatan perjalanan antariksa dan membuat koloni semacam itu bisa terwujud.

“Cepat atau lambat bencana seperti hantaman asteroid atau perang nuklir bisa menyapu kita semua,” kata Profesor Hawking, yang lumpuh akibat penyakit otot pada usia 21 tahun dan berbicara melalui alat penyatu suara komputer.

“Namun jika kita menyebar ke ruang angkasa dan membentuk koloni-koloni independen, masa depan kita akan aman,” kata Hawking, yang dijadwalkan menerima penghargaan tertua dunia untuk prestasi ilmiah, Medali Copley, dari Masyarakat Kerajaan Inggris pada Kamis.

Para ilmuwan tedahulu yang juga menerima penghargaan tersebut mencakup Albert Einstein dan Charles Darwin.

Untuk bisa bertahan hidup, manusia harus melakukan perjalanan ke planet-planet lain yang mengorbit bintang lain, namun roket bahan bakar kimia konvesional yang membawa manusia ke Bulan dalam misi Apollo akan memerlukan waktu 50.000 tahun untuk mencapai tempat itu, katanya.

Hawking, ilmuwan berusia 64 tahun dengan tiga anak yang jarang melakukan wawancara dan menulis buku terlaris “A Brief History of Time”, menyatakan bahwa tenaga pendorong seperti yang digunakan dalam pesawat fiksi Enterprise “untuk pergi ke tempat yang belum pernah dikunjungi manusia sebelumnya” bisa membantu mengatasi masalah itu.

“Fiksi ilmiah mengembangkan gagasan pendorong warp, yang bisa membawa anda seketika ke tempat tujuan anda,” katanya, seperti dikutip Reuters.

“Sayangnya, ini akan melanggar hukum ilmiah yang mengatakan bahwa tidak ada sesuatu yang bisa bergerak lebih cepat daripada cahaya,” tambahnya.

Namun, dengan menggunakan sistem “pelenyapan zat/antizat”, kecepatan di bawah kecepatan cahaya bisa dicapai, sehingga memungkinkan perjalanan ke bintang terdekat dalam waktu sekitar enam tahun.

“Itu tampaknya tidak terlalu lama bagi mereka yang berada di dalam pesawat,” katanya.

Ilmuwan tersebut menyatakan, ia juga ingin melakukan perjalanan ke luar angkasa, meski dengan cara yang lebih konvensional.

“Saya tidak takut mati, namun saya tidak buru-buru untuk mati. Tujuan mendatang saya adalah pergi ke angkasa,” kata Hawking. (*)

Copyright © 2006 ANTARA

December 3, 2006 at 2:59 am 1 comment

Clinton berkunjung ke Aceh
Mantan Presiden Amerika serikat Clinton beberapa hari yang lalu meninjau pembangunan tempat tinggal permanen bagi para korban Tsunami di Aceh. “Hanya 30 to 35 persen pembangunan rumah permanen yang telah dibangun

Clinton Tours Tsunami-Devastated Areas

December 2, 2006 at 10:14 pm Leave a comment

LITHOSFER

A.

Struktur Lapisan Kulit Bumi (litosfer)
Lithosfer berasal dari bahasa yunani yaitu lithos artinya batuan, dan sphera artinya lapisan lithosfer yaitu lapisan kerak bumi yang paling luar dan terdiri atas batuan dengan ketebalan rata-rata 1200 km.

Perlu anda pahami bahwa yang dimaksud batuan bukanlah benda yang keras saja berupa batu dalam kehidupan sehari hari, namun juga dalam bentuk tanah liat, abu gunung api, pasir, kerikil dan sebagainya.
Tebal kulit bumi tidak merata, kulit bumi di bagian benua atau daratan lebih tebal dari di bawah samudra.

Bumi tersusun atas beberapa lapisan yaitu:

a.

Barisfer yaitu lapisan inti bumi yang merupakan bahan padat yang tersusun dari lapisan nife (niccolum=nikel dan ferum besi) jari jari barisfer +- 3.470 km.

b.

Lapisan antara yaitu lapisan yang terdapat di atas nife tebal 1700 km. Lapisan ini disebut juga asthenosfer mautle/mautel), merupakan bahan cair bersuhu tinggi dan berpijar. Berat jenisnya 5 gr/cm3.

c.

Lithosfer yaitu lapisan paling luar yang terletak di atas lapisan antara dengan ketebalan 1200km berat jenis rata-rata 2,8 gram/cm3.

Structure of hte oceanic and continental lithosphere

Gambar : Struktur Lithospheric. Bagian Kiri Menunjukkan oceanic lithosphere; Bagian kanan menunjukkan continental lithosphere. Digambar ulang oleh Keary and Vine (1996)

www.geologyrocks.co.uk

 

Lithosfer disebut juga kulit bumi terdiri dua bagian yaitu:

1.

Lapisan sial yaitu lapisan kulit bumi yang tersusun atas logam silisium dan alumunium, senyawanya dalam bentuk SiO2 dan AL 2 O3.
Pada lapisan sial (silisium dan alumunium) ini antara lain terdapat batuan sedimen, granit andesit jenis-jenis batuan metamor, dan batuan lain yang terdapat di daratan benua.

batuan metamorf yaitu batuan yang berubah bentuknya akibat pengaruh tekanan, temperatur dan waktu

batuan sedimen yaitu batuan yang terjadi dari hasil proses pengendapan

Lapisan sial dinamakan juga lapisan kerak bersifat padat dan batu bertebaran rata-rata 35km.

Kerak bumi ini terbagi menjadi dua bagian yaitu:

- Kerak benua : merupakan benda padat yang terdiri dari batuan granit di bagian atasnya dan batuan beku basalt di bagian bawahnya. Kerak ini yang merupakan benua.
- Kerak samudra : merupakan benda padat yang terdiri dari endapan di laut pada bagian atas, kemudian di bawahnya batuan batuan vulkanik dan yang paling bawah tersusun dari batuan beku gabro dan peridolit. Kerak ini menempati dasar samudra

2.

Lapisan sima (silisium magnesium) yaitu lapisan kulit bumi yang tersusun oleh logam logam silisium dan magnesium dalam bentuk senyawa Si O2 dan Mg O lapisan ini mempunyai berat jenis yang lebih besar dari pada lapisan sial karena mengandung besi dan magnesium yaitu mineral ferro magnesium dan batuan basalt. Lapisan merupakan bahan yang bersipat elastis dan mepunyai ketebalan rata rata 65 km .

  Perhatikan gambar penampang bumi berikut ini:

1. Batuan pembentuk lithosfer

a.

Batuan beku

b.

Batuan sedimen

c.

Batuan metamorf
   
 

Semua batuan pada mulanya dari magma
Magma keluar di permukaan bumi antara lain melalui puncak gunung berapi. Gunung berapi ada di daratan ada pula yang di lautan. Magma yang sudah mencapai permukaan bumi akan membeku. Magma yang membeku kemudian menjadi batuan beku. Batuan beku muka bumi selama beribu-ribu tahun lamanya dapat hancur terurai selama terkena panas, hujan, serta aktifitas tumbuhan dan hewan.

Selanjutnya hancuran batuan tersebut tersangkut oleh air, angin atau hewan ke tempat lain untuk diendapkan. Hancuran batuan yang diendapkan disebut batuan endapan atau batuan sedimen. Baik batuan sedimen atau beku dapat berubah bentuk dalam waktu yang sangat lama karena adanya perubahan temperatur dan tekanan. Batuan yang berubah bentuk disebut batuan malihan atau batuan metamorf.

Untuk lebih memahami jenis-jenis batuan perhatikan uraian berikut:

a.

Batuan Beku
Ada dua macam batuan beku, yaitu batuan beku dalam (contohnya

batu granit

), dan batuan beku luar (contohnya batu andesit.)

Untuk Mengetahui ketepatan batuan jenis batuan harus dilakukan uji laboratorium dengan menggunakan mikroskop untuk melihat bentuk kristal batuanya.
Jenis-jenis batuan beku

b.

Batuan sedimen
Ada beberapa macam batuan sedimen, yaitu batuan sedimen klastik, sedimen kimiawi dan sedimen organic. Sedimen klastik berupa campuran hancuran batuan beku, contohnya
breksi

, konglomerat

dan batu pasir. Sedimen kimiawi berupa endapan dari suatu pelarutan, contohnya batu kapur

dan batu giok. Sedimen organic berupa endapan sisa sisa hewan dan tumbuhan laut contohnya batu gamping

dan koral

.
Jenis-jenis batuan sedimen

c.

Batuan Malihan (Batuan Metamorf)
Batuan malihan atau metamorf adalah batuan yang berubah bentuk. Contohnya kapur (kalsit) berubah menjadi marmer

, atau batuan kuarsa menjadi kuarsit

.
Jenis-jenis batuan metamorf

2. Pemanfaatan lithosfer

 

Lithosfer merupakan bagian bumi yang langsung berpengaruh terhadap kehidupan dan memiluki manfaat yang sangat besar bagi kehidupan di bumi. Lithosfer bagian atas merupakan tempat hidup bagi manusia, hewan dan tanaman. Manusia melakukan aktifitas di atas lithosfer.
Selanjutnya lithosfer bagian bawah mengandung bahan bahan mineral yang sangat bermanfaat bagi manusia. Bahan bahan mineral atau tambang yang berasal dari lithosfer bagian bawah diantaranya minyak bumi dan gas, emas, batu bara, besi, nikel dan timah.

Melihat manfaat Litthosfer yang demikian besar tersebut sepantasnyalah kita selalu bersyukur terhadap Tuhan Yang Maha Esa.

   

3. Bentuk muka bumi sebagai akibat proses vulkanisme dan diatropisme.

 

Mengapa bentuk permukaan bumi tidak merata. Hal ini disebabkan karena adanya pengaruh dari luar bumi dan dalam bumi itu sendiri.

Pengaruh dari dalam bumi berupa suatu tenaga yang sangat besar sehingga dapat membentuk muka bumi yang beraneka ragam. Tenaga yang berasal dari dalam bumi disebut tenaga endogen. Tenaga yang berasal dari luar bumi disebut tenaga eksogen. Tenaga eksogen bersifat merusak bentuk bentuk permukaan bumi yang dibangun atas tenaga endogen.

Tenaga endogen meliputi tektonisme, vulkanisme dan seisme, sedangkan tenaga eksogen meliputi pengikisan dan pengendapan.
Tenaga eksogen antara lain meliputi pelapukan (weathering) dan erosi (pengikisan).

1.

Gejala vulkanisme.
Vulkanisme yaitu peristiwa yang sehubungan dengan naiknya magma dari dalam perut bumi.
Magma adalah campuran batu-batuan dalam keadaan cair, liat serta sangat panas yang berada dalam perut bumi. Aktifitas magma disebabkan oleh tingginya suhu magma dan banyaknya gas yang terkandung di dalamnya sehingga dapat terjadi retakan-retakan dan pergeseran lempeng kulit bumi.Magma dapat berbentuk gas padat dan cair.

Proses terjadinya vulkanisme dipengaruhi oleh aktivitas magma yang menyusup ke lithosfer (kulit bumi). Apabila penyusupan magma hanya sebatas kulit bumi bagian dalam dinamakan intrusi magma. Sedangkan penyusupan magma sampai keluar ke permukaan bumi disebut ekstrusi magma. Sampai di sini apakah anda dapat memahami. kalau anda sudah memahami mari ikuti penjelasan berikutnya!

1.1

Intrusi magma
intrusi magma adalah peristiwa menyusupnya magma di antara lapisan batu-batuan, tetapi tidak mencapai permukaan bumi. Intrusi magma dapat dibedakan menjadi empat, yaitu:

a)

Intrusi datar (sill atau lempeng intrusi), yaitu magma menyusup diantara dua lapisan batuan, mendatar dan pararel dengan lapisan batuan tersebut.

b)

Lakolit, yaitu magma yang menerobos di antara lapisan bumi paling atas. Bentuknya seperti lensa cembung atau kue serabi.

c)

Gang (korok), yaitu batuan hasil intrusi magma yang menyusup dan membeku di sela sela lipatan (korok).

d)

Diaterma adalah lubang (pipa) diantara dapur magma dan kepundan gunung berapi bentuknya seperti silinder memanjang.

1.2

Ekstrusi magma
Ekstrusi magma adalah peristiwa penyusupan magma hingga keluar Permukaan bumi dan membentuk gunung api. Hal ini terjadi bila tekanan Gas cukup kuat dan ada retakan pada kulit bumi . Ekstrusi magma dapat di bedakan Menjadi:

a)

Erupsi linier, yaitu magma keluar melalui retakan pada kulit bumi, berbentukKerucut gunung api.

b)

Erupsi sentral, yaitu magma yang keluar melalui sebuah lubang permukaan bumi dan membentuk gunung yang letaknya tersendiri.

c)

Erupsi areal, yaitu magma yang meleleh pada permukaan bumi karena letak Magma yang sangat dekat dengan permukaan bumi, sehingga terbentuk kawah gunung berapi yang sangat luas.

  Perhatikan gambar berikut ini!
 

Gunung merupakan tonjolan pada kulit bumi yang terdiri dari lereng dan puncak.

Rangkaian dari gunung-gunung membentuk pegunungan. Gunung dan pegunungan terbentuk karena adanya tenaga endogen.
Apabila suatu tempat di permukaan bumi yang pernah atau masih mengeluarkan magma maka terbentuklah gunung berapi.

Berdasarkan tipe letusan gunung berapi dapat dibedakan menjadi tiga yaitu:

a)

Gunungapi strato atau kerucut.
Kebanyakan gunung berapi di dunia merupakan gunung api kerucut. Letusan pada gunung api kerucut termasuk letusan kecil.letusan dapat berupa lelehan batuan yang panas dan cair. Seringnya terjadi lelehan menyebabkan lereng gunung berlapis lapis.Oleh karena itu, gunung api ini disebut gunung api strato. Sebagian besar gunung berapi di Sumatera, Jawa, Bali, Nusa Tenggara dan Maluku termasuk gunung api kerucut.

b)

Gunung api maar.
Bentuk gunung api maar seperti danau kering. Jenis gunung api maar seperti danau kering. Jenis gunung api maar tidak banyak. gunung berapi ini terbentuk karena ada letusan besar yang membentuk lubang besar pada puncak yang di sebut kawah. Gunung api maar memiliki corong. Contohnya Gunung Lamongan jawa Timur dengan kawahnya Klakah.

c)

Gunung api perisai
Di Indonesia tidak ada gunung yang berbentuk perisai. Gunung api perisai contohnya Maona Loa Hawaii, Amerika Serikat. Gunung api perisai terjadi karena magma cair keluar dengan tekanan rendah hampir tanpa letusan. Lereng gunung yang terbantuk menjadi sangat landai.


Pada umumnya bentuk gunung berapi di Indonesia adalah strato (kerucut). Gunung berapi yang pernah meletus, umunya berpuncak datar. Oleh karena itu, di Indonesia sering terjadi peristiwa gunung meletus. Magma yang keluar ke permukaan bumi ada yang padat cair dan gas. Material yang dikeluarkan oleh gunung api tersebut, antara lain:

1)

Eflata (material padat) berupa lapili, kerikil, pasir dan debu.

2)

Lava dan lahar, berupa material cair.

3)

Eksalasi (gas) berupa nitrogen belerang dan gas asam.

Ciri ciri gunung api yang akan meletus, antara lain:

1)

Suhu di sekitar gunung naik.

2)

Mata air mejadi kering

3)

Sering mengeluarkan suara gemuruh, kadang kadang disertai getaran (gempa)

4)

Tumbuhan di sekitar gunung layu, dan

5)

Binatang di sekitar gunung bermigrasi.

Tanda tanda ini menandakan intrusi magma yang terus mendesak ke permukaan, apabila desakan ini cukup kuat, yang terjadi adalah letusan gunung berapi. Setelah terjadi letusan Gunung itu mengalami istirahat, tetapi aktifitas gunung tersebut masih berlangsung, sehingga suatu saat dapat mengeluarkan suatu tanda tanda aktif kembali. Peristiwa vulkanik yang terdapat pada gunung berapi setelah meletus (post vulkanik), antara lain:

1)

terdapatnya sumber gas H2 S, H2O,dan CO2.

2)

Sumber air panas atau geiser.

Sumber gas ini ada yang sangat berbahaya bagi kehidupan. Bahkan dapat mematikan misalnya yang terjadi pada Kawah Sinila (Dieng) disamping berbahaya, gejala post vulkanik bermanfaat juga bagi kehidupan manusia. bahkan dapat juga dijadikan objek wisata , Misalnya air panas dan kawah gunung berapi.

Danau vulkanik
Setelah gunung merapi meletus atas kepundannya yang kedap air dapat menampung air dan membetuk danau. Danau vulkanik adalah danau yang terbentuk akibat letusan gunung yang kuat sehingga menghancurkan bagian puncaknya, kemudian membentuk sebuah cekungan besar, cekungan menampung air dan membentuk danau.

Contoh danau vulkanik, antara lain: danau di pucak gunung lokon di Sulawesi Utara dan Danau Kelimutu di Flores.


Manfaat dan kerugian vulkanisme
Peristiwa vulkanik selain memberikan manfaat juga dapat menimbulkan kerugian harta benda maupun jiwa. Keuntungan yang kita peroleh setelah vulkanisme berlangsung antara lain:

1)

Objek wisata berupa kawah (Kawah gunung Bromo ), sumber air panas yang memancar (Yellowstone di Amerika Serikat, dan Pelabuhan Ratu di Cisolok), sumber air mineral (Maribaya di Jawa Barat dan Baturaden di Jawa Tengah)

2)

Sumber energi panas bumi misalnya di kamojang, Jawa Barat.

3)

Tanah subur yang akan diperoleh setelah beberapa tahun kemudian.

Kerugian yang kita alami terutama adalah berupa jiwa dan harta benda, karena:

1)

Gempa bumi

yang dapat ditimbulkanya dapat merusak bangunan.

2)

Kebakaran

hutan akibat aliran lava pijar.

3)

Tebaran abu yang sangat tebal dan meluas dapat merusak kesehatan dan mengotori sarana yang ada.

2.

Bentuk muka bumi akibat diatropisme
Diatropisme adalah proses pembentukan kembali kulit bumi pembentukan gunung-gunung, lembah-lembah, lipatan lipatan dan retakan retakan. Proses pembentukan lembah kulit bumi tersebut karena adanya tenaga tektonik.

Tektonisme adalah tenaga yang berasal dari kulit bumi yang menyebabkan perubahan lapisan permukaan bumi, baik mendatar maupun vertikal. Tenaga tektonik adalah tenaga yang berasal dari dalam bumi yang menyebabkan gerak naik dan turun lapisan kulit bumi. Gerak itu meliputi gerak orogenetik dan gerak epirogenetik. (orogenesa dan epiro genesa).

Gerak orogenetik adalah gerak yang dapat menimbulkan lipatan patahan retakan disebabkan karena gerakan dalam bumi yang besar dan meliputi daerah yang sempit serta berlangsung dalam waktu yang singkat.

a)

Lipatan, yaitu gerakan pada lapisan bumi yang tidak terlalu besar dan berlangsung dalam waktu yang lama sehingga menyebabkan lapisan kulit bumi berkerut atau melipat, kerutan atau lipatan bumi ini yang nantinya menjadi pegunungan. Punggung lipatan dinamakan antliklinal, daerah lembah (sinklinal) yang sangat luas dinamakan geosinklinal, ada beberapa lipatan, yaitu lipatan tegak miring, rebah, menggantung, isoklin dan kelopak.

 

Perhatikan gambar:

 

Pehatikan gambar!

 

a. lipatan tegak d. lipatan menggantung
b. lipatan miring e. lipatan isoklin
c. lipatan rebah f. lipatan kelopak
 

Patahan yaitu gerakan pada lapisan bumi yang sangat besar dan berlangsung yang dalam waktu yang sangat cepat, sehingga menyebabkan lapisan kulit bumi retak atau patah. Bagian muka bumi yang mengalami patahan seperti graben dan horst. Horst adalah tanah naik, terjadi bila terjadi pengangkatan. Graben adalah tanah turun, terjadi bila blok batuan mengalami penurunan.

  Pehatikan gambar!


   

b)

Gerak epirogenetic yaitu gerak yang dapat menimbulkan permukaan bumi seolah turun atau naik, disebabkan karena gerakan di bumi yang lambat dan meliputi daerah yang luas gerak epirogenetik di bedakan menjadi dua, yaitu gerak epiro genetic positif dan gerak epiro genetic negatif.

1.)

Gerak epirogenetic positif adalah gerakan permukaan bumi turun dan seolah olah permukaan air laut naik. Contoh, turunya pulau-pulau di kawasan Indonesia timur (Kepulauan Maluku dan kepulauan Benda.

2.)

Gerak epirogenetic negatif adalah gerakan permukaan bumi seolah-olah permukaan bumi naik dan seolah olah permukaan air turun. Contoh, naiknya dataran tinggi Colorado. Supaya lebih jelas, lihatlah gambar di bawah ini.

  e-dukasi.net

December 2, 2006 at 9:35 pm 145 comments

A. Pengertian Tanah dan Lahan
 

Anda mungkin bertanya apa hubungan Pedosfer dengan tanah dan lahan? Pedosfer atau tanah adalah lapisan kulit bumi yang tipis terletak di bagian paling atas permukaan bumi. Lalu apa bedanya tanah dengan lahan? Selama ini orang awam beranggapan tanah sama pengertiannya dengan lahan. Padahal menurut konsep Geografi tanah dengan lahan memiliki perbedaan yang mendasar.

 

Tanah dalam Bahasa Inggris disebut soil, menurut Dokuchaev: tanah adalah suatu benda fisis yang berdimensi tiga terdiri dari panjang, lebar, dan dalam yang merupakan bagian paling atas dari kulit bumi.

 

Sedangkan lahan Bahasa Inggrisnya disebut land, lahan merupakan lingkungan fisis dan biotik yang berkaitan dengan daya dukungnya terhadap perikehidupan dan kesejahteraan hidup manusia. Yang dimaksud dengan lingkungan fisis meliputi relief atau topografi, tanah, air, iklim. Sedangkan lingkungan biotik meliputi tumbuhan, hewan, dan manusia. Jadi kesimpulannya pengertian lahan lebih luas daripada tanah.

Bagaimana, apakah Anda telah mengetahui perbedaan tanah dengan lahan! Coba tuliskan kesimpulanmu pada kertas tersendiri! Sekarang marilah kita pelajari faktor-faktor yang mempengaruhi proses pembentukan tanah.

Jenis tanah yang terdapat di Indonesia bermacam-macam, antara lain:
   
1. Organosol atau Tanah Gambut atau Tanah Organik
 

Jenis tanah ini berasal dari bahan induk organik seperti dari hutan rawa atau rumput rawa, dengan ciri dan sifat: tidak terjadi deferensiasi horizon secara jelas, ketebalan lebih dari 0.5 meter, warna coklat hingga kehitaman, tekstur debu lempung, tidak berstruktur, konsistensi tidak lekat-agak lekat, kandungan organik lebih dari 30% untuk tanah tekstur lempung dan lebih dari 20% untuk tanah tekstur pasir, umumnya bersifat sangat asam (pH 4.0), kandungan unsur hara rendah.

     
 

Berdasarkan penyebaran topografinya, tanah gambut dibedakan menjadi tiga yaitu:

 

a.

gambut ombrogen: terletak di dataran pantai berawa, mempunyai ketebalan 0.5 – 16 meter, terbentuk dari sisa tumbuhan hutan dan rumput rawa, hampir selalu tergenang air, bersifat sangat asam. Contoh penyebarannya di daerah dataran pantai Sumatra, Kalimantan dan Irian Jaya (Papua);

b.

gambut topogen: terbentuk di daerah cekungan (depresi) antara rawa-rawa di daerah dataran rendah dengan di pegunungan, berasal dari sisa tumbuhan rawa, ketebalan 0.5 – 6 meter, bersifat agak asam, kandungan unsur hara relatif lebih tinggi. Contoh penyebarannya di Rawa Pening (Jawa Tengah), Rawa Lakbok (Ciamis, Jawa Barat), dan Segara Anakan (Cilacap, Jawa Tengah); dan

c.

gambut pegunungan: terbentuk di daerah topografi pegunungan, berasal dari sisa tumbuhan yang hidupnya di daerah sedang (vegetasi spagnum). Contoh penyebarannya di Dataran Tinggi Dieng.

 

2.

Aluvial

 

Jenis tanah ini masih muda, belum mengalami perkembangan, berasal dari bahan induk aluvium, tekstur beraneka ragam, belum terbentuk struktur , konsistensi dalam keadaan basah lekat, pH bermacam-macam, kesuburan sedang hingga tinggi.

 

Penyebarannya di daerah dataran aluvial sungai, dataran aluvial pantai dan daerah cekungan (depresi).

     
3. Regosol
 

Jenis tanah ini masih muda, belum mengalami diferensiasi horizon, tekstur pasir, struktur berbukit tunggal, konsistensi lepas-lepas, pH umumnya netral, kesuburan sedang, berasal dari bahan induk material vulkanik piroklastis atau pasir pantai.
Penyebarannya di daerah lereng vulkanik muda dan di daerah beting pantai dan gumuk-gumuk pasir pantai.

     

4.

Litosol

 

Tanah mineral tanpa atau sedikit perkembangan profil, batuan induknya batuan beku atau batuan sedimen keras, kedalaman tanah dangkal (< 30 cm) bahkan kadang-kadang merupakan singkapan batuan induk (outerop). Tekstur tanah beranekaragam, dan pada umumnya berpasir, umumnya tidak berstruktur, terdapat kandungan batu, kerikil dan kesuburannya bervariasi.
Tanah litosol dapat dijumpai pada segala iklim, umumnya di topografi berbukit, pegunungan, lereng miring sampai curam.

   
5. Latosol
 

Jenis tanah ini telah berkembang atau terjadi diferensiasi horizon, kedalaman dalam, tekstur lempung, struktur remah hingga gumpal, konsistensi gembur hingga agak teguh, warna coklat merah hingga kuning.

   
 

Penyebarannya di daerah beriklim basah, curah hujan lebih dari 300 – 1000 meter, batuan induk dari tuf, material vulkanik, breksi batuan beku intrusi.

   
6. Grumosol
 

Tanah mineral yang mempunyai perkembangan profil, agak tebal, tekstur lempung berat, struktur kersai (granular) di lapisan atas dan gumpal hingga pejal di lapisan bawah, konsistensi bila basah sangat lekat dan plastis, bila kering sangat keras dan tanah retak-retak, umumnya bersifat alkalis, kejenuhan basa, dan kapasitas absorpsi tinggi, permeabilitas lambat dan peka erosi. Jenis ini berasal dari batu kapur, mergel, batuan lempung atau tuf vulkanik bersifat basa.
Penyebarannya di daerah iklim sub humid atau sub arid, curah hujan kurang dari 2500 mm/tahun.

   
   
   

9.

Andosol

 

Jenis tanah mineral yang telah mengalami perkembangan profil, solum agak tebal, warna agak coklat kekelabuan hingga hitam, kandungan organik tinggi, tekstur geluh berdebu, struktur remah, konsistensi gembur dan bersifat licin berminyak (smeary), kadang-kadang berpadas lunak, agak asam, kejenuhan basa tinggi dan daya absorpsi sedang, kelembaban tinggi, permeabilitas sedang dan peka terhadap erosi. Tanah ini berasal dari batuan induk abu atau tuf vulkanik.

   

10.

Mediteran Merah – Kuning

 

Tanah mempunyai perkembangan profil, solum sedang hingga dangkal, warna coklat hingga merah, mempunyai horizon B argilik, tekstur geluh hingga lempung, struktur gumpal bersudut, konsistensi teguh dan lekat bila basah, pH netral hingga agak basa, kejenuhan basa tinggi, daya absorpsi sedang, permeabilitas sedang dan peka erosi, berasal dari batuan kapur keras (limestone) dan tuf vulkanis bersifat basa. Penyebaran di daerah beriklim sub humid, bulan kering nyata. Curah hujan kurang dari 2500 mm/tahun, di daerah pegunungan lipatan, topografi Karst dan lereng vulkan ketinggian di bawah 400 m. Khusus tanah mediteran merah – kuning di daerah topografi Karst disebut terra rossa.

   

11.

Hodmorf Kelabu (gleisol)

 

Jenis tanah ini perkembangannya lebih dipengaruhi oleh faktor lokal, yaitu topografi merupakan dataran rendah atau cekungan, hampir selalu tergenang air, solum tanah sedang, warna kelabu hingga kekuningan, tekstur geluh hingga lempung, struktur berlumpur hingga masif, konsistensi lekat, bersifat asam (pH 4.5 – 6.0), kandungan bahan organik. Ciri khas tanah ini adanya lapisan glei kontinu yang berwarna kelabu pucat pada kedalaman kurang dari 0.5 meter akibat dari profil tanah selalu jenuh air.
Penyebaran di daerah beriklim humid hingga sub humid, curah hujan lebih dari 2000 mm/tahun.

   

12.

Tanah sawah (paddy soil)

 

Tanah sawah ini diartikan tanah yang karena sudah lama (ratusan tahun) dipersawahkan memperlihatkan perkembangan profil khas, yang menyimpang dari tanah aslinya. Penyimpangan antara lain berupa terbentuknya lapisan bajak yang hampir kedap air disebut padas olah, sedalam 10 – 15 cm dari muka tanah dan setebal 2 – 5 cm. Di bawah lapisan bajak tersebut umumnya terdapat lapisan mangan dan besi, tebalnya bervariasi antara lain tergantung dari permeabilitas tanah. Lapisan tersebut dapat merupakan lapisan padas yang tak tembus perakaran, terutama bagi tanaman semusim. Lapisan bajak tersebut nampak jelas pada tanah latosol, mediteran dan regosol, samara-samar pada tanah aluvial dan grumosol.

 


 

Gambar 4. Pematang Sawah

   

December 2, 2006 at 9:27 pm 10 comments

hilal

Observatorium Bosscha/Hendro Setyanto

December 2, 2006 at 8:01 pm Leave a comment

Idul Adha dalam Perspektif Penanggalan



hilal

Observatorium Bosscha/Hendro Setyanto
 

 

Apa yang dimaksud dengan hilal?

 

Jika merujuk pada Hadis Nabi tentang puasa, hilal dapat diterjemahkan sebagai sabit bulan yang pertama kali terlihat dengan mata setelah ijtimak terjadi. Secara astronomi, ijtimak atau konjungsi terjadi jika Matahari dan Bulan berada pada bujur ekliptika yang sama.

 

Perkembangan ilmu hisab (baca: astronomi) menjadikan pengertian rukyat hilal turut berkembang. Sebagian ulama meyakini bahwa rukyat hilal yang dilakukan pada masa Rasulullah SAW dapat digantikan dengan perhitungan (hisab) posisi hilal.

 

Perkembangan pengertian tersebut melahirkan kriteria awal bulan yang beragam di antaranya imkan rukyat dan wujudul hilal. Perbedaan kriteria awal bulan inilah yang menyebabkan terjadinya perbedaan dalam melaksanakan ibadah dan merayakan hari besar agama.

 

Kriteria imkan rukyat mensyaratkan ketinggian tertentu yang memungkinkan hilal untuk dapat dirukyat dengan mata, sedangkan kriteria wujudul hilal hanya mensyaratkan ijtimak dan bulan terbenam setelah matahari semata.

 

Mereka yang menggunakan kriteria imkan rukyat akan merayakan Idul Adha 1423 H pada tanggal 12 Februari 2003, sedangkan bagi yang menggunakan wujudul hilal akan merayakannya pada tanggal 11 Februari 2003.

 

Kapan Arab Saudi ber-Idul Adha?

 

Arab Saudi sebagai sebuah negara Islam yang mempunyai kriteria penanggalan Hijriah sendiri. Selama ini, masyarakat umum beranggapan bahwa penanggalan Hijriah Arab Saudi menggunakan rukyat.

 

Ternyata, anggapan tersebut keliru. Penanggalan Arab Saudi didasarkan pada hisab semata. Kriteria awal bulan yang digunakan juga sering berubah. Paling tidak, Arab Saudi telah dua kali mengganti kriteria awal bulan yang digunakannya, yaitu pada tahun 1420 H dan 1423 H.

 

Kriteria yang saat ini digunakan menyatakan, “Jika pada tanggal 29 dalam penanggalan Hijriah telah memenuhi 2 (dua) kondisi, yaitu (1) Konjungsi telah terjadi sebelum Matahari tenggelam, dan (2) Bulan tenggelam setelah Matahari, maka keesokan harinya telah masuk bulan baru (tanggal 1)”.

 

Berdasarkan kriteria tersebut, Arab Saudi akan merayakan Idul Adha pada tanggal 11 Februari 2003. Hal ini disebabkan pada tanggal 1 Februari 2003 kedua kondisi tersebut telah terpenuhi untuk wilayah Arab Saudi.

 

Kriteria Arab Saudi tersebut sama dengan konsep wujudul hilal yang digunakan organisasi kemasyarakatan (ormas) Muhammadiyah dan Persis di Indonesia. Kesamaan kriteria tersebut tidak menjamin umat Islam di Indonesia dan Arab Saudi berhari raya pada hari yang sama. Kalaupun sama, lebih karena suatu kebetulan semata.

 

Kaji aspek kalender

 

Hingga kini, pemerintah belum dapat menyatukan berbagai kriteria awal bulan yang digunakan dalam masyarakat. Berbagai kesepakatan yang ada seringkali tidak ditaati. Begitu juga kajian yang dilakukan umumnya masih berkutat pada permasalahan fiqh, tanpa menyentuh aspek yang mendasari sistem penanggalannya sendiri.

 

Padahal, pelaksanaan ibadah dalam Islam, seperti shalat dan puasa, sangat terkait dengan fenomena astronomi, khususnya Matahari dan Bulan. Begitu juga dengan sistem penanggalan Hijriah yang didasarkan pada pergerakan Bulan dalam mengelilingi Bumi.

 

Oleh karena itu, sekiranya permasalahan fiqh dapat dipisahkan terlebih dahulu, maka untuk mengkaji aspek kalendernya bisa menjadi lebih sederhana. Meskipun sangat sulit melepaskan aspek fiqh dari penanggalan Hijriah karena penanggalan Hijriah identik dengan pelaksanaan ibadah yang merupakan bagian dari fiqh.

 

Kalaupun tidak, pemerintah bersama ormas yang berkepentingan dengan penanggalan Hijriah mencoba bersepakat untuk menyerahkan konsep penanggalan Hijriah tersebut kepada suatu institusi ilmiah yang berkompeten.

 

Apa pun keputusan dan produk yang dihasilkan oleh institusi ilmiah tersebut harus diikuti. Hal tersebut dilakukan oleh Arab Saudi sehingga, meskipun kriteria yang digunakan sering mendapat “catatan” dari berbagai pihak, kesatuan dalam negeri tetap dapat dijaga.

 

Hal yang sama diterapkan pada penanggalan Cina yang merupakan lunisolar calendar. Tanggung jawab perhitungan kalender Cina diserahkan kepada Institute Astronomy of Nanjing dan Purple Mountain Observatory di Nanjing. Dengan demikian, pelaksanaan Imlek dapat dilakukan secara serentak seluruh dunia.

 

Selamat merayakan Idul Adha 1423 H, semoga perbedaan yang kerap dan masih akan terus terjadi tidak mengurangi kekhusyukan dalam melaksanakan ibadah shalat Id.

 

Hendro Setyanto SSi, Asisten di Observatorium Bosscha, Forum Kajian Ilmu Falak ZENITH

 

http://www.kompas.com/kompas-cetak/0302/09/iptek/119893.htm

December 2, 2006 at 7:57 pm Leave a comment

Bantuan Rekonstruksi Korban Gempa Tidak jelas

6 bulan sudah berlalu setelah gempa dengan kekuatan 5,9 SR menghancurkan sebagian kota Yogyakarta dan Klaten, rumah, gedung perkantoran, rumahsakit, gedung sekolahan, Dll, roboh dan rata dengan tanah hanya dalam hitungan detik, namun saat ini kendala yang dihadapi korban gempa adalah belum adanya kepastian bantuan dana rekonstruksi dari pihak pemerintah.

 

 

 

 

Rehabilitasi dan rekontruksi paska gempa di Jogja berjalan tersendat-sendat. Banyak berita yang simpang siur, Banyak yang mengobral janji janji palsu yang malahan membuat masyarakat bingung.

 

Jika Dana Rekonstruksi belum juga turun, seluruh korban gempa yang masih tinggal di dalam tenda akan sangat resah pasalnya musim hujan akan segera tiba. Mereka membutuhkan tempat tinggal yang nyaman untuk dihuni.

 

Bentuk pengaduan telah dilayangkan ke pemerintah namun nyatanya korban gempa sampai saat ini masih menunggu dan tetap menunggu

 

December 2, 2006 at 7:19 pm Leave a comment

Older Posts Newer Posts


SELAMAT DATANG

Tulisan Baru

Tulisan sebelumnya

Yang Lagi Baca

page counter

Pengunjung Situs Ini

Pengunjung

  • 511,996 Pembaca
Pagerank

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui email.

Join 9 other followers


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.