prospek batu lempung dimasa kini

November 19, 2006 at 4:17 pm 9 comments

KUALITAS BATULEMPUNG SEBAGAI BAHAN BAKU SEMEN

 

Batulempung merupakan sebagai bahan galian C, seiring semakin pesatnya pembangunan maka permintaan akan semen pun semakin tinggi pula dimana batulempung merupakan salah satu bahan baku dalam industri semen,

Dengan demikian keberadaan Batulempung pun akan terus dicari

 

Teori Singkat Batulempung

Batulempung menurut Pettijohn (1975) adalah batuan yang pada umumnya bersifat plastis, berkomposisi hidrous alumunium silikat (2H2OAL2O3. 2SiO2) atau mineral lempung yang mempunyai ukuran butir halus (batulempung adalah batuan sedimen yang mempunyai ukuran butir kurang dari 0,002 atau 1/256 mm).

Ingram (1953), (vide Pettijohn, 1975) mendefinisikan batulempung sebagai batuan yang berstrutur masif yang komposisinya lebih banyak dari lanau. Sedangkan menurut William dkk., 1954, batulempung adalah batuan sedimen klastik yang mempunyai ukuran butir lempung, termasuk di dalamnya butiran yang mempunyai diameter kurang dari 1 atau 2 mikron dan secara dominan disusun oleh silika.

Karena ukuran butirnya yang sangat halus maka sulit untuk mendeskripsi batulempung secara megaskopis maupun mikroskopis, sehingga analisis kimia merupakan informasi yang penting untuk mengetahui komposisi batulempng. Komposisi dominan pada batulempung adalah silika (Pettijohn,1975), yang merupakan bagian kelompok mineral lempung, yang pada umumnya berasal dari feldspar. Unsur besi pada batu lempung hadir sebagai oksida, berupa pirit atau markasit dan siderit. Jumlah oksida besi pada batu lempung biasanya tercermin pada warna dari batuan tersebut. Selain mineral mineral tersebut di atas karbonat juga sering dijumpai pada batulempung. Mineral karbonat pada batulempung dapat berupa bahan-bahan organik, anorganik atau kombinasi dari keduanya (Ehlers dan Blatt, 1980),antara lain:

  1. Residual Clay

Merupakan hasil pelapukan yang masih insitu atau belum mengalami transportasi. Ciri-ciri fisik dari batuan ini tergantung pada iklim, pengairan dan batu induknya. Batulempung jenis ini dijumpai disekitar batu induknya dan pada umumnya mempunyai mutu yang lebih baik dibandingkan dengan transported clays (Sukandarrumidi, 1999).

  1. Transported Clays

Batulempung yang sudah tertransportasi dapat berasal dari tiga sumber yaitu:

    1. Produk dari abrasi
    2. Produk dari pelapukan yang tertransportasi
    3. Pencampuran unsur kimia dan bio kimia

Batulempung ini selama proses pengendapan atau pengangkutan sangat mungkin dikotori oleh mineral yang berukuran halus antara lain kuarsa, oksida besi dan bahan organisme (Sukandarrumidi, 1999).

Karena ukurannya yang halus batulempung pada umumnya terbentuk pada daerah yang mempunyai arus lemah. Batulempung ini terbentuk pada lingkungan darat maupun laut, contoh di daerah dataran banjir, delta, danau, lagun dan laut (Ehlers dan Blatt, 1980). Batulempung yang terbentuk pada daerah yang berbeda mempunyai kenampakan fisik yang berbeda pula (Dixon, 1992). Batulempung yang terbentuk di laut pada umumnya mempunyai perlapisan yang tebal, mengandung fosil laut dalam, atau binatang yang hidup di laut dangkal yang kemudian tenggelam setelah mati.

 

Bahan Baku Semen Portland

Semen mempunyai arti kata mampu mengikat partikel-partikel menjadi satu (Riyanto, 1991). Istilah semen pertama kali dikemukakan pada zaman Roma yang mendapatkan bahwa air yang ditambah pada campuran kapur tohor gamping yang sudah dibakar (CO) dengan abu volkanik dari kata puzzuoli memproduksi serangkaian reaksi yang menyebabkan gumpalan itu menghablur kembali dan mengeras, oleh bangsa Roma disebut sebagai pozzoland cement. Kemudian pada tahun 1984 disempurnakan oleh Yoseph Aspidin menjadi portland cement.

Semen portaland adalah semen yang disusun oleh senyawa-senyawa utama CaO, SiO2, Al2O3, dan Fe2O3. semen portland mengandung satu atau lebih senyawa kalsium sulfat. Senyawa ini terbentuk pada waktu penggilingan karena adanya penambahan bahan-bahan mentah. Campuran tersebut membentuk clinker yang kemudian ditambah dengan gypsum maka akan terbentuk semen portland.

Semen portland tipe I dengan bahan baku sebagai berikut:

1.      Batugamping (77%)

Batugamping ini digunakan untuk mendapatkan komposisi CaO. Batugamping yang digunakan harus memenuhi syarat-syarat tertentu, antara lain:

         Mempunyai kadar karbonat tinggi (> 48%)

         Mempunyai kadar Mg rendah (< 1,8%)

         Tidak mengandung Zn dan Pb

         Mempunyai kadar air kurang dari 20%

         Sedikit mengandung sulfat, sulfit dan alkali

2.      Batulempung (15%)

Batulempung digunakan untuk mendapatkan komposisi Al2O3 dan SiO2. batulempung yang digunakan harus memenuhi persyaratan sebagai berikut:

         Mempunyai kadar SiO2 tinggi (> 48%)

         Sedikit mengandung sulfit, sulfat dan alkali

3.      Pasir kuarsa (6%)

Pasir kuarsa digunakan sebagai bahan pengoreksi komposisi SiO2. pasir kuarsa sangat dibutuhkan apabila kandungan kwarsa pada batulempung rendah.

4.      Pasir besi (2%)

Pasir besi digunakan untuk memudahkan proses pelelehan bahan-bahan mentah pada saat pengilingan.

5.      Gypsum

Pada semen portland gypsum ini dipakai untuk memperlambat proses pengerasan seman. Gypsum ini merupakan material terakhir yang ditambahkan kedalam clinker dan digiling secara bersama-sama sampai tercapai ukuran butir tertentu.

Disamping bahan-bahan tersebut di atas diperhatikan pula beberapa senyawa kimia yang apabila jumlahnya berlebihan akan mempengaruhi mutu semen dan proses pembakaran, sehingga jumlahnya perlu dibatasi. Senyawa-senyawa tersebut antara lain MgO, ­K2O, Na2O, SO3, CL, dan foshfor. Dampak yang ditimbulkan oleh senyawa-senyawa tersebut adalah:

1.      MgO yang terlalu tinggi dapat menyebabkan:

         Viskositas tinggi

         Mudah terjadi keretakan karena adanya pemuaian bentuk

         Clinker cenderung menggumpal pada saat pembakaran sehingga mempengaruhi jalannya operasi.

2.      Alkali (K2O dan Na2O), bila terlalu tinggi dapat menyebabkan:

         Meningkatnya sifat mudah terbakar pada temperatur rendah

         Visikositas meningkat

3.      Senyawa sulfur (SO2, SO3, SO4), apabila terlalu tinggi dapat mengakibatkan:

         Menurunkan temperatur terbentuknya fase cair sebesar 100°C dan menurunkan viskositas

4.      Khlorida (Cl), bila terlalu tinggi dapat menyebabkan:

         Terbentuk labih banyak senyawa KCl dan NaCl yang dapat menyebabkan masalah dalam operasional dimana seluruh senyawa akan menguap pada tahap pembakaran

         Menambah pembentukan fase cair

 

5.      Fosfor, bila terlalu tinggi dapat menyebabkan:

         Mempercepat reaksi clinkerisasi

 

 

Pustaka:

Pettijohn, F. J. 1957., Sedimentary Rock, Harper & Row Publisher, New York.

Sukandarrumidi, 1999., Bahan Galian Industri, Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.

Zuidam, R.A., 1973, Guide to Geomorphological Photo-Interpretation, Sub Departement of Geography ITC, London.

Williams, H., Turner, F. J., Gilbert, C. M, 1954., Petrography, W.H. Freeman and Company, San Fransisco

Entry filed under: Geologi. Tags: .

Prosese Pemisahan Bijih Timah Gas Methan

9 Comments Add your own

  • 1. klastik  |  November 24, 2006 at 4:27 am

    Yup indonesia merupakan daerah volkanik, dimana didapat endapan atau material dari aktifitas volkanik yang sangat berpotensi seperti lempung

    Reply
  • 2. Rovicky  |  November 26, 2006 at 1:40 am

    BAgaimana dengan lempung LUSI ?

    Reply
  • 3. klastik  |  November 26, 2006 at 5:17 am

    LuSi sebagai bahan galian juga bagus, sebagai bahan pembuat batu bata

    Reply
  • 4. klastik  |  November 26, 2006 at 5:24 am

    Untuk lempung LuSi sama dengan lempung yang ada di purwodadi,mungkin yang beda disini adalah kandungan kimiannya

    Reply
  • 5. vaniekaze  |  November 30, 2006 at 2:48 am

    kalau mau nyari bukunya yang lengkap dimana ya…

    Reply
  • 6. putra  |  November 30, 2006 at 3:04 am

    banyak di toko toko buku

    Reply
  • 7. nice_can  |  January 30, 2007 at 8:19 am

    pak, saya pernah membaca lumpur sidoarjo yang telah dipisahkan dengan naoteknologi, lalu dicampur dengan 10% semen, maka akan meningkatkan kekerasannya 2-3 kali lipat.
    bagaimana kaitan antara nanoteknologi dengan peningkatan kekerasan batubata yang dibuat dari lusi itu? bisakah bapak menjelaskan lebih jauh??

    Reply
  • 8. badar  |  March 31, 2008 at 6:01 am

    ada ga’ jenis batuan yang belum di identifikasi?

    Reply
  • 9. harga pasir silika per kg. harga pasir silika per ton}  |  October 13, 2014 at 8:17 pm

    What’s up to every one, the contents existing at
    this site are truly amazing for people knowledge, well, keep up the nice work fellows.

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


SELAMAT DATANG

RSS Info Gempa

  • An error has occurred; the feed is probably down. Try again later.

Tulisan sebelumnya

Yang Lagi Baca

page counter

Pengunjung Situs Ini

Pengunjung

  • 634,404 Pembaca
Pagerank

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui email.

Join 8 other followers


%d bloggers like this: