Idul Adha dalam Perspektif Penanggalan

December 2, 2006 at 7:57 pm Leave a comment



hilal

Observatorium Bosscha/Hendro Setyanto
 

 

Apa yang dimaksud dengan hilal?

 

Jika merujuk pada Hadis Nabi tentang puasa, hilal dapat diterjemahkan sebagai sabit bulan yang pertama kali terlihat dengan mata setelah ijtimak terjadi. Secara astronomi, ijtimak atau konjungsi terjadi jika Matahari dan Bulan berada pada bujur ekliptika yang sama.

 

Perkembangan ilmu hisab (baca: astronomi) menjadikan pengertian rukyat hilal turut berkembang. Sebagian ulama meyakini bahwa rukyat hilal yang dilakukan pada masa Rasulullah SAW dapat digantikan dengan perhitungan (hisab) posisi hilal.

 

Perkembangan pengertian tersebut melahirkan kriteria awal bulan yang beragam di antaranya imkan rukyat dan wujudul hilal. Perbedaan kriteria awal bulan inilah yang menyebabkan terjadinya perbedaan dalam melaksanakan ibadah dan merayakan hari besar agama.

 

Kriteria imkan rukyat mensyaratkan ketinggian tertentu yang memungkinkan hilal untuk dapat dirukyat dengan mata, sedangkan kriteria wujudul hilal hanya mensyaratkan ijtimak dan bulan terbenam setelah matahari semata.

 

Mereka yang menggunakan kriteria imkan rukyat akan merayakan Idul Adha 1423 H pada tanggal 12 Februari 2003, sedangkan bagi yang menggunakan wujudul hilal akan merayakannya pada tanggal 11 Februari 2003.

 

Kapan Arab Saudi ber-Idul Adha?

 

Arab Saudi sebagai sebuah negara Islam yang mempunyai kriteria penanggalan Hijriah sendiri. Selama ini, masyarakat umum beranggapan bahwa penanggalan Hijriah Arab Saudi menggunakan rukyat.

 

Ternyata, anggapan tersebut keliru. Penanggalan Arab Saudi didasarkan pada hisab semata. Kriteria awal bulan yang digunakan juga sering berubah. Paling tidak, Arab Saudi telah dua kali mengganti kriteria awal bulan yang digunakannya, yaitu pada tahun 1420 H dan 1423 H.

 

Kriteria yang saat ini digunakan menyatakan, “Jika pada tanggal 29 dalam penanggalan Hijriah telah memenuhi 2 (dua) kondisi, yaitu (1) Konjungsi telah terjadi sebelum Matahari tenggelam, dan (2) Bulan tenggelam setelah Matahari, maka keesokan harinya telah masuk bulan baru (tanggal 1)”.

 

Berdasarkan kriteria tersebut, Arab Saudi akan merayakan Idul Adha pada tanggal 11 Februari 2003. Hal ini disebabkan pada tanggal 1 Februari 2003 kedua kondisi tersebut telah terpenuhi untuk wilayah Arab Saudi.

 

Kriteria Arab Saudi tersebut sama dengan konsep wujudul hilal yang digunakan organisasi kemasyarakatan (ormas) Muhammadiyah dan Persis di Indonesia. Kesamaan kriteria tersebut tidak menjamin umat Islam di Indonesia dan Arab Saudi berhari raya pada hari yang sama. Kalaupun sama, lebih karena suatu kebetulan semata.

 

Kaji aspek kalender

 

Hingga kini, pemerintah belum dapat menyatukan berbagai kriteria awal bulan yang digunakan dalam masyarakat. Berbagai kesepakatan yang ada seringkali tidak ditaati. Begitu juga kajian yang dilakukan umumnya masih berkutat pada permasalahan fiqh, tanpa menyentuh aspek yang mendasari sistem penanggalannya sendiri.

 

Padahal, pelaksanaan ibadah dalam Islam, seperti shalat dan puasa, sangat terkait dengan fenomena astronomi, khususnya Matahari dan Bulan. Begitu juga dengan sistem penanggalan Hijriah yang didasarkan pada pergerakan Bulan dalam mengelilingi Bumi.

 

Oleh karena itu, sekiranya permasalahan fiqh dapat dipisahkan terlebih dahulu, maka untuk mengkaji aspek kalendernya bisa menjadi lebih sederhana. Meskipun sangat sulit melepaskan aspek fiqh dari penanggalan Hijriah karena penanggalan Hijriah identik dengan pelaksanaan ibadah yang merupakan bagian dari fiqh.

 

Kalaupun tidak, pemerintah bersama ormas yang berkepentingan dengan penanggalan Hijriah mencoba bersepakat untuk menyerahkan konsep penanggalan Hijriah tersebut kepada suatu institusi ilmiah yang berkompeten.

 

Apa pun keputusan dan produk yang dihasilkan oleh institusi ilmiah tersebut harus diikuti. Hal tersebut dilakukan oleh Arab Saudi sehingga, meskipun kriteria yang digunakan sering mendapat “catatan” dari berbagai pihak, kesatuan dalam negeri tetap dapat dijaga.

 

Hal yang sama diterapkan pada penanggalan Cina yang merupakan lunisolar calendar. Tanggung jawab perhitungan kalender Cina diserahkan kepada Institute Astronomy of Nanjing dan Purple Mountain Observatory di Nanjing. Dengan demikian, pelaksanaan Imlek dapat dilakukan secara serentak seluruh dunia.

 

Selamat merayakan Idul Adha 1423 H, semoga perbedaan yang kerap dan masih akan terus terjadi tidak mengurangi kekhusyukan dalam melaksanakan ibadah shalat Id.

 

Hendro Setyanto SSi, Asisten di Observatorium Bosscha, Forum Kajian Ilmu Falak ZENITH

 

http://www.kompas.com/kompas-cetak/0302/09/iptek/119893.htm

Entry filed under: Diskusi. Tags: .

Bantuan Rekonstruksi Korban Gempa Tidak jelas

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


SELAMAT DATANG

RSS Info Gempa

  • An error has occurred; the feed is probably down. Try again later.

Tulisan sebelumnya

Yang Lagi Baca

page counter

Pengunjung Situs Ini

Pengunjung

  • 634,875 Pembaca
Pagerank

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui email.

Join 8 other followers


%d bloggers like this: