Hubungan Tingkat Kedewasaan Batupasir Dengan Rekonstruksi Tektonik Sedimentasinya

December 19, 2007 at 12:53 pm Leave a comment

HUBUNGAN KEDEWASAAN BATUPASIR DENGAN TEKTONIK SEDIMENTASINYA

Konsep tentang tektonik sedimentasi pada lingkungan pengendapan meliputi tingkat perkembangan tektonik stabil da setelah geosinklin, Sifat-sifat fisik yang utama pada batupasir meliputi komposisi mineral, tekstur dan struktur (Folk, 1974). Komposisi mineral dan tekstur batupasir dapat untuk menentukan tingkat kedewasaannya, yaitu yang dikenal dengan istilah kedewasaan mineral dan kedewasaan tekstur. Kerangka tektonik pada suatu proses sedimentasi adalah sebagai kombinasi antara adanya penurunan (subsiding), keadaan stabil dan pengangkatan (rising) dari elemen-elemen tektonik di daerah batuan asal dan daerah pengendapan.

TINGKAT KEDEWASAAN BATUPASIR

  • Kedewasaan Tekstur = tingkat kedewasaan sedimen terdiri dari kedewasaan tekstur dan kedewasaan komposisi, kedewasaann tekstur atau sering dikenal “tekstural maturity” menurut Folk (1951) vide Pettijohn, didefenisikan sebagai derajat kandungan lempung, pemilahan Roundness (kebundaran butir).

  • Derajat kandungan lempung = Makin tinggi tenaga, maka penyaringan berjalan efektif. Oleh karna itu batupasir hasil dari lingkungan pengendapan dengan tenaga tinggi sedikit sekali kandungan material lempungnya, sedangkan batupasir yang di endapkan pada lingkungan bertenaga rendah akan mempunyai kandungan material lempung yang melimpah.

  • Derajat pemilahan butir = Makin tinggi tenaga, maka penyaringan berjalan efektif. Oleh karna itu batupasir hasil dari lingkungan pengendapan dengan tenaga tinggi sedikit sekali kandungan material lempungnya, sedangkan batupasir yang di endapkan pada lingkungan bertenaga rendah akan mempunyai kandungan material lempung yang melimpah.

  • Derajat kebundaran butir = Interpretasi besar butir didasarkan atas suatu kenyataan

bahwa pada suatu lingkungan pengendapan purba terjadi lebih dari satu proses pengendapan, misalnya dari arus traksi dan dari suspensi dalam endapan sungai; adanya saltasi, traksi, rolling dan sebagaainya di pantai dan seterusnya. Setiap proses ini

Folk (1974) membagi tingkat kedewasaan tekstur batupasir menjadi empat tingkat, yaitu:

  1. Tingkat immature

Sedimen mengandung matrik lempung lebih besar 5% (terigeneous), dengan pemilahan jelek dan bentuk butir meruncing.

  1. Tingkat submature

Sedimen mengandung matrik lempung kurang dari 5%, pemilah butir jelek ( > 0,5 Ø) dengan kebundaran butir tidak bagus.

  1. Tingkat mature

Sedimen mengandung sedikit atau sama sekali tidak mengandung material lempung, dengan pemilahan butir baik (a < 0,5 Ø), tetapi bentuk butir masih belum membundar.

  1. Tingkat supermature

Sedimen bebas dari kandungan material lempung, pemilahan baik dan tingkat kebundaran bagus (menurut tingkat kebundaran Waddel > 0,36 mm; sampai > 3,0mm).

  • Kedewasaan Komposisi

Kedewasaan komposisi (compositional maturity) menurut Pettijohn (1975) dinyatakan dalam istilah kedewasaan mineralogy (mineralogical maturity) dan kedewasaan kimia (chemical maturity).

  • Kedewasaan edimenty

Pettijohn (1975) menyatakan bahwa konsep kedewasaan ediment adalah perubahan kimia dari oksidasi penyusun batuan dan kestabilan mineral pembentuk batuan.

  • Kedewasaan Kimia

Blatt et al., (1972) menyatakan bahwa kedewasaan adalah sebagai derajat dari sifat-sifat yang tersisa (residual character).

  • Inversi Tekstur

Inversi tekstur terjadi apabila batupasir dengan tingkat kedewasaan yang lebih baik, kemudian oleh proses berikutnya dipindah ketempat lain dan diendapkan didalam lingkungan pengendapan yang menghasilkan tingkat kedewasaan jelek.

Folk (1974) mengemukakan bahwa inverse tekstur terjadi apabila butiran mempunyai pemilahan bagus atau pembundaran baik terjadi didalam matrik lempung atau sedimen mempunyai komposisi pemilahan yang jelek tetapi pembundarannya baik.

HUBUNGAN TINGKAT KEDEWASAAN BATUPASIR DENGAN REKONSTRUKSI TEKTONIK SEDIMENTASI

Kontrol Tektonik dari Sifat-sifat Batupasir

Kemudian Folk (1974), menyatakan suatu konsep tentang hubungan perkembangan tektonik dari benua dengan pengendapan batupasir yang berkomposisi mineral khas. Konsep tersebut meliputi tiga tahap yaitu :

  1. Tahap stabil (quiescent) atau tahap pembentukan dataran (peneplanation), akan menghasilkan batu pasir kwarsa.

  2. Tahap deformasi menengah atau tahap geosinklin, akan menghasilkan greywacke, yakni batupasir yang kaya fragmen batuan metamorf, mika dan matrik batuan lempung mikaan.

  3. Tahap deformasi kuat atau tahap setelah geosinklin, akan menghasilkan arkose

Tingkat Kedewasaan dan Tektonik Sedimentasi Batupasir

Tingkat kedewasaan batupasir dikontrol oleh lingkungan pengendapannya (Pettijohn, 1975). Pada umumnya batupasir terbentuk di dalam kondisi lingkungan pengendapan yang mempunyai tenaga tinggi akan lebih cenderung mempunyai tingkat kedewasaan yang lebih baik.

Ketidakstabilan tektonik yang lemah (unstable shelves) menghasilkan sedimen submature, sedangkan lingkungan pengendapan dengan kegiatan tektonik yang stabil akan banyak menghasilkan sedimen-sedimen mature. Apabila kondisi tektonik stabil ini berlangsung dalam jangka waktu yang cukup lama, maka lingkungan pengendapan menghasilkan sedimen supermature.

Tipe – Tipe Batupasir

Batupasir terdiri dari beberapa tipe, antara lain:

  1. Batupasir kuarsa (Ortokuarsit = Quartz Arenite)

  2. Greywacke (Feldpathic greywacke & Lithic greywacke)

  3. Arkose

  4. Subgreywacke (Quartz Wacke)

  5. Tuf dan batupasir tufan

1) Batupasir kuarsa (Ortokuarsit = Quartz Arenite)

Bahwa ortokuarsit mengandung mineral kuarsa dalam jumlah yang cukup banyak dan jumlah matrik sedikit sekali.

2) Greywacke (Feldspathic Graywacke & Lithic Greywacke)

Greywacke mempunyai kandungan matrik lebih dari 15%, biasanya pemilahan jelek, matrik dari jenis mineral lempung, klorit dan serisit

3) Arkose

Bahwa arkose tersusun lebih dari 25% mineral feldspar dan matrik kurang dari 15%, feldspar lebih banyak dari pecahan batuan. Matrik biasanya terdiri dari kaolin. pemilahan dan penyaringan adalah cukup besar.

4) Subgraywacke (Quartz Wacke)

Lebih dari 80% tersusun dari mineral kuarsa dan beberapa feldspar serta fragmen muskovit yang kasar.

5) Tuf dan batupasir tufan

Tuf terbentuk oleh karena kegiatan vulkanisme yang mengeluarkan material halus atau debu vulkanis dan kemudian diendapkan didaratan atau didalam media air. Batupasir ini tersusun dari fragmen batuan beku, gelas vulkanis, fragmen kristal kuarsa, biotit dan horblenda.

 

By:Luken

Entry filed under: Geologi. Tags: .

Geologi Daerah Mondokan Sragen Protokol Kyoto

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Subscribe to the comments via RSS Feed


SELAMAT DATANG

RSS Info Gempa

  • An error has occurred; the feed is probably down. Try again later.

Tulisan sebelumnya

Yang Lagi Baca

page counter

Pengunjung Situs Ini

Pengunjung

  • 634,875 Pembaca
Pagerank

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui email.

Join 8 other followers


%d bloggers like this: