Tenang Sebelum Gelombang

February 12, 2012 at 11:42 am Leave a comment

Jepang adalah negara terbaik di dunia dalam hal persiapan gempa bumi dan tsunami. Negara ini memperkuat bangunan-bangunan tua dan me­lengkapi bangunan baru dengan peredam guncangan. Tembok laut yang tinggi melindungi banyak kota pesisirnya, sementara rute evakuasi tsunami memiliki rambu yang jelas. Pada 11 Maret, para seismolog pemerintah yang me­meluk monitor komputer agar tidak jatuh ke lantai langsung mengeluarkan peringatan tsunami begitu gempa berhenti.

Semua langkah persiapan ini menyelamatkan banyak orang. Kerusakan gempa Tohoku—9 skala Richter—tidak sebanyak kalau itu terjadi di negara lain. Namun, sekitar 16.000 sampai 20.000 orang tewas karena tsunami—jumlah ini setara dengan korban gempa bumi dan tsunami di daerah itu pada 1896.

Pertahanan Jepang meningkat pesat sejak saat itu, tetapi jumlah penduduknya me­ningkat tiga kali lipat. Pantainya jauh lebih padat. Hal yang sama terjadi di seluruh dunia, di negara-negara yang persiapannya jauh di bawah Jepang. Di Samudra Hindia, tempat tsunami paling mematikan dalam sejarah menewaskan hampir 230.000 orang pada 2004—se­bagian besar orang Indonesia—bencana se­rupa diper­kira­kan terjadi lagi sekitar 30 tahun men­datang. Pakar geologi juga memperkirakan, tsunami yang pernah menghancurkan pesisir Barat Laut Amerika Serikat 300 tahun lalu, ketika penduduknya masih jarang, akan kembali menerpa.

Sato pernah selamat dari tsunami besar se­belumnya. Pada 1960, ketika dia masih berusia delapan tahun, gelombang setinggi empat meter menewaskan 41 orang di Minamisanriku. Tembok laut pun dibangun setelah itu, hingga ketinggian 5,5 meter. Kata Sato, “Seismolog memberi tahu kami untuk bersiap-siap meng­hadapi tsunami yang mungkin setinggi lima setengah sampai enam meter. Namun, tinggi tsunami ini tiga kali lipatnya.”

Setiap tahun ada saja tempat yang dilanda tsunami, dan mungkin tsunami raksasa ikut menentukan jalan sejarah. Misalnya, beberapa arkeolog berpendapat bahwa tsunami Laut Tengah melanda pantai utara Kreta sekitar 3.500 tahun lalu. Bencana ini menurut mereka menyebabkan peradaban Minoa ditundukkan oleh Mykenai Yunani. Pada 1755, ketika gempa bumi dan tsunami menewaskan puluhan ribu orang di Lisboa, tragedi itu berdampak per­manen pada pemikiran Barat: Membantu meng­hancurkan pandangan optimisme yang berpuas diri pada masa itu.
Sejarawan Yunani Thukidides pada abad ke­lima SM merupakan orang pertama yang men­dokumentasikan hubungan antara gempa bumi dan tsunami. Dia mencatat bahwa tanda pertama tsunami biasanya pantai tiba-tiba me­ngering, karena air laut tertarik ke tengah. “Tanpa gempa bumi, saya kira hal seperti itu tidak mungkin terjadi,” tulisnya.

Sebenarnya bisa. Tsunami Minoa dipicu oleh letusan dahsyat Thira, pulau gunung api 110 kilometer sebelah utara Kreta di Laut Aegea. Sementara tanah longsor dapat menyebabkan tsunami lokal, seperti tsunami setinggi 525 meter yang meng­hantam lereng bukit di Alaska, pada 1958. Syaratnya ada batu bermassa besar yang bergerak mendadak di dalam air bermassa besar—tidak harus di laut.

Memang, sebagian besar tsunami, termasuk Tohoku, disebabkan oleh gempa bumi dasar laut di sepanjang sesar yang disebut zona subduksi. Sebagian besar berada di Samudra Pasifik dan Hindia. Sepanjang perbatasan itu terjadi tabrakan dua lempeng tektonik bumi, dan lem­peng yang membawa kerak samudra padat masuk ke bawah lempeng benua yang lebih ringan, membentuk palung laut yang dalam. Biasanya hal ini terjadi secara perlahan-lahan, beberapa sentimeter per tahun.

Namun, sesekali kedua lempeng ini tertahan. Setelah berabad-abad, akumulasi ketegangan mengalahkan hambatan tersebut, dan kedua lempeng terlepas dengan disertai guncangan. Di lepas pantai Jepang Maret lalu, gempa terjadi 30 kilometer di bawah dasar laut dan kemudian merambat ke atas mengikuti lereng pertemuan kedua lempeng itu hingga ke Palung Jepang di dasar laut. Gempa ini mengeluarkan ener­gi setara 8.000 bom Hiroshima.

Gelombang laut biasa hanyalah alun akibat terpaan angin di per­muka­an laut, tetapi tsunami menggerakkan seluruh kolom air, mulai dari dasar laut. Gerakan awal ini menyebar ke arah yang berlawanan dari sesar tersebut, dengan jarak antara muka gelombang yang dapat mencapai 500 kilometer. Di lepas pantai berair dalam, gelombang ini hampir tidak terlihat. Tinggi gelombang ini kian bertambah di air dangkal, karena pantai me­nyebabkan naiknya kolom air—dan dapat tetap berbahaya sekalipun telah menyeberangi samudra, melaju secepat pesawat jet. Tsunami yang meluluhlantakkan Jepang Maret lalu meng­hanyutkan seorang pria di California; tsunami ini juga memecahkan blok es seukuran Kota Makassar di tepi Antartika yang beku.
sumber

Entry filed under: Bencana. Tags: .

Energi Baru dari Limbah Sawit Cara Hitung Pemasangan Panel Surya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


SELAMAT DATANG

RSS Info Gempa

  • An error has occurred; the feed is probably down. Try again later.

Tulisan sebelumnya

Yang Lagi Baca

page counter

Pengunjung Situs Ini

Pengunjung

  • 634,404 Pembaca
Pagerank

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui email.

Join 8 other followers


%d bloggers like this: