Posts filed under ‘Lingkungan’

Kadar Yodium Radioaktif Dideteksi pada 4 Provinsi Termasuk Tokyo

Yodium radioaktif dalam tingkat yang melampaui batas telah dideteksi di 4 provinsi termasuk Tokyo, yang dipicu oleh masalah pada PLTN Fukushima Daiichi.

Pada hari Minggu lalu, di Desa Iitate, Provinsi Fukushima, tempat dimana PLTN yang bermasalah itu berada, terdeteksi yodium radioaktif sebesar 965 bercquerel per liter. Desa itu terletak di barat laut PLTN tersebut. Tingkat ini 3 kali lipat lebih tinggi dari standar keselamatan pemerintah sebesar 300 becquerel per liter.

Sementara di Desa Tamura dekat Iitate pada hari Kamis lalu tercatat 348 becquerel yodium radioaktif pada air, namun 2 hari kemudian tingkat itu turun di bawah standar.

Yodium radioaktif yang melebihi 100 becquerel per liter, yakni tingkat keamanan resmi untuk bayi di bawah usia satu tahun, telah dideteksi di 5 kota lain di provinsi itu.

Pada hari Rabu, tingkat yang melebihi standar untuk bayi itu juga ditemukan pada air di Tokyo dan 2 kota di Provinsi Ibaraki.

Pada hari Kamis ini, Kota Kawaguchi di Provinsi Saitama juga mengumumkan temuan tingkat yodium sebesar 120 becquerel di salah satu kilang penyulingan airnya

March 24, 2011 at 5:43 am Leave a comment

Kenaikan Permukaan Air Laut

https://i2.wp.com/geology.com/press-release/indian-ocean-sea-level-rise/indian-ocean.jpg

Kenaikan Permukaan Air Laut Dekat Penduduk padat

Permukaan laut Samudera Hindia meningkat tidak merata di beberapa wilayah pesisir dan pulau-pulau yang berpenduduk padat dan mengancam penduduk. (more…)

March 5, 2011 at 8:22 am Leave a comment

8 Aksi Sederhana Cinta Bumi

Dengan melakukan langkah sederhana dalam keseharian, kita bisa berbuat banyak untuk bumi. Delapan hal ini sebenarnya bukan hal yang baru. Sayangnya, kita sering lupa melakukannya. Lakukan aksi ini mulai dari sekarang!

Buang sampah pada tempatnya. Waduh, ini harus diingatkan terus, nih. Soalnya, kadang kita suka “lupa” gara-gara nggak melihat tong sampah di sekitar. Sebelum membuang sampah, ingatlah kalau banjir, polusi tanah dan sebagainya terjadi karena tumpukan sampah. Simpan dulu sampah tersebut dalam tas sampai menemukan tong sampah.

Pilah dan pisahkan sampah, organik dan non organik. Di publik area sudah banyak tersedia tong sampah yang dipisah. Coba lakukan juga di rumah kita. Ini sangat bermanfaat untuk mengolah sampah. Sebaliknya, sampah yang tercampur akan merepotkan untuk didaur ulang.

Nggak meminta kantong plastik saat berbelanja. Cukup ditaruh dalam tas atau bawa kantong kain. Bayangin deh, sekitar 1 triliyun plastik digunakan tiap tahunnya, dan sampahnya banyak banget. Padahal, satu plastik aja baru bisa terurai di tanah setelah ratusan tahun.

Matikan lampu di siang hari. Rumah merupakan salah satu penyedot listrik terbesar di bumi. Dengan mematikan lampu bisa efisien energi listrik serta mengurangi emisi yang dihasilkannya.

Kurangi waktu mandi (Sebaiknya nggak lebih dari 10 menit). Dengan mengurangi waktu mandi 1 menit, bisa menghemat 500 galon air dalam setahun.

Nggak membiarkan keran menyala (terus mengalir) saat kita sikat gigi dan memakai sabun. Hemat air!

Ikutan car free day. Ini sama artinya dengan kita mendukung kampanye cinta bumi untuk mengurangi pencemaran udara di kota kita.

Tularkan 7 hal diatas ke orang-orang di sekitarmu. Menjadikan bumi lebih baik adalah tanggung jawab kita bersama.

By http://www.gadis.co.id/mobile/article/mobArticleDetail.aspx?mc=001&smc=006&ar=85

February 24, 2011 at 9:14 am Leave a comment

Sifat-sifat fisik airtanah

Yang dimaksud dengan sifat-sifat fisik airtanah adalah sifat air yang dipergunakan harus bebas dari segala macam kotoran yang dapat terdeteksi oleh indra penglihatan, indra pembau dan indra perasa. Karakteristik fisik meliputi warna, bau, rasa, kekentalan, kekeruhan dan temperatur.

a. Warna, warna air dapat disebabkan oleh adanya zat-zat atau material organik yang terkandung dalam air bersih yang berupa suspensi maupun yang terlarut. Intersitas warna dalam air dapat diukur dengan satuan unit warna standar yang dihasilkan oleh 1 mg/l platina (sebagai K2PtCl6).

b. Bau dan rasa, bau dapat disebabkan oleh zat-zat atau gas-gas yang memiliki aroma-aroma tertentu di dalam air dan terhisap oleh indra pembau seperti gas H2S, NH3, senyawa fenol, cloro fenol dll. Rasa di tentukan oleh adanya garam atau zat lain baik yang tersubsidi atau yang terlarut dalam air seperti MgSO4, Na2SO4 dan NaCl. (more…)

October 23, 2008 at 9:25 pm 1 comment

Geogrid Solusi Buat Jalan Berlubang

Tensar International - Soil Reinforcement and Ground Stabilisation Solutions

Gambar 1. Pemasangan GeoGrid pada jalan Raya [www.roadtraffic-technology.com]
GeoGrid (Enkagrid) merupakan bahan Geosynthetics yang berfungsi sebagai lapisan perkuatan (reinforcenent) untuk lereng jalan dan lain2, enkagrid mempunyai kuat tarik yang besar sampai 180 kN, untuk itu product jenis ini sangat sesuai untuk di pakai pada konstruksi jalan baru yang lapisan tanah dasarnya ber CBR rendah dibawah 2 %. GeoGrid sangat baik digunakan pada jalan raya yang berada pada struktur tanah yang kurang labil, sehingga jalan raya yang berlubang akan dapat teratasi.
Tensar International - Ground Stabilisation and Soil Reinforcement Solutions

Gambar 2. Penggunaan GeoGrid pada Rel Kereta api [www.railway-technology.com]
Geogitter_geogrid.jpg
Gambar 3. Pemasangan GeoGrid pada Lereng rawan longsor [www.treehugger.com]

 

March 19, 2008 at 8:39 pm 4 comments

Cegah Banjir Dengan Sumur Resapan

Guna menanggulangi luapan air yang dapat menimbulkan banjir, Pemerintah Daerah Yogyakarta telah menerapkan pembuatan sumur resapan  pada kawasan perumahan bagi masyarakat yogyakarta, dimana sumur resapan pada kawasan perumahan tersebut nantinya dapat menampung air hujan dan nantinya dapat menjadi cadangan air di saat musim kemarau tiba.
           Pengalihan fungsi lahan merupakan salah satu faktor penyebab banjir dan menurunnya permukaan air tanah di kawasan perumahan, Pengalihan lahan Hijau seperti hutan menjadi perumahan menyebabkan tidak adanya lagi area terbuka sebagai resapan air, sehingga air yang meresap ke dalam tanah menjadi kecil dan memperbesar volume aliran air permukaan.
           guna mengatasi banjir dan menurunnnya permukaan air tanah pada kawasan perumahan dapat dilakukan dengan cara pencegahan sedini mungkin melalui perencanaan dari awal oleh pihak pengembang perumahan (kontraktor/developer) dengan mengalokasikan lahan untuk pembuatan konstruksi sumur resapan air atau pompa pengendali banjir.
Penerapan Konstruksi Sumur Resapan Air

Konstruksi Sumur Resapan Air (SRA) merupakan alternatif pilihan dalam mengatasi banjir dan menurunnya permukaan air tanah pada kawasan perumahan, karena dengan pertimbangan : a) pembuatan konstruksi SRA tidak memerlukan biaya besar, b) tidak memerlukan lahan yang luas, dan c) bentuk konstruksi SRA sederhana.

Sumur resapan air merupakan rekayasa teknik konservasi air yang berupa bangunan yang dibuat sedemikian rupa sehingga menyerupai bentuk sumur gali dengan kedalaman tertentu yang berfungsi sebagai tempat menampung air hujan diatas atap rumah dan meresapkannya ke dalam tanah (Dephut,1994). Manfaat yang dapat diperoleh dengan pembuatan sumur resapan air antara lain : (1) mengurangi aliran permukaan dan mencegah terjadinya genangan air, sehingga memperkecil kemungkinan terjadinya banjir dan erosi, (2) mempertahankan tinggi muka air tanah dan menambah persediaan air tanah, (3) mengurangi atau menahan terjadinya intrusi air laut bagi daerah yang berdekatan dengan wilayah pantai, (4) mencegah penurunan atau amblasan lahan sebagai akibat pengambilan air tanah yang berlebihan, dan (5) mengurangi konsentrasi pencemaran air tanah (Dephut, 1995).

 

 

1122a.jpg (52386 bytes)

 

Gambar 1. Sumur Resapan Air Pada Pekarangan Rumah

(Sumber: PU Cipta Karya, 2003)

 

Sumur resapan air ini berfungsi untuk menambah atau meninggikan air tanah, mengurangi genangan air banjir, mencegah intrusi air laut, mengurangi gejala amblesan tanah setempat dan melestarikan serta menyelamatkan sumberdaya air untuk jangka panjang (Pasaribu, 1999). Oleh karena itu pembuatan sumur resapan perlu digalakkan terutama pada setiap pembangunan rumah tinggal.

Metode Perhitungan 

Metode perhitungan yang bertujuan bahwa daerah layanan akan bebas dari genangan dan sekaligus meresapkan air hujan kedalam tanah. Air yang jatuh pada bukan perkerasan akan dialirkan ke jaringan drainasi yang diperhitungkan berdasar pada Formula Rational dengan

it didasarkan pada waktu konsentrasi (Tk), sedangkan air yang jatuh di perkerasan dialirkan masuk kedalam konstruksi resapan dengan volume resapan fungsi dan lama hujan dominan (Td), intensitas hujan pada Td, koefisien permeabilitas tanah, selang waktu dengan hujan dominan, tinggi muka air tanah, luasan atap layanan dan koefisien aliran permukaan yang kemudian diperhitungkan berdasar formula Darcy dengan penjabarannya oleh Bouillot (Sunjoto, 1987).

Untuk efisiensinya perlu diperhitungkan volume sumuran tersebut dan secara analitis dengan dasar bahwa tinggi sumuran diambil pada saat debit masuk sama dengan debit keluar maka dapat ditulis suatu formula: (Sunjoto, 1987).

 

1. Bentuk Dan Ukuran Konstruksi Sumur Resapan Air (SRA)

Bentuk dan ukuran konstruksi SRA sesuai dengan SNI No. 03-2459-1991 yang dikeluarkan oleh Departemen Kimpraswil adalah berbentuk segi empat atau silinder dengan ukuran minimal diameter 0,8 meter dan maksimum 1,4 meter dengan kedalaman disesuaikan dengan tipe konstruksi SRA. Pemilihan bahan bangunan yang dipakai tergantung dari fungsinya, seperti plat beton bertulang tebal 10 cm dengan campuran 1 Pc : 2 Psr : 3 Krl untuk penutup sumur dan dinding bata merah dengan campuran spesi 1 Pc : 5 Psr tidak diplester, tebal ½ bata (Gambar 2).

 

 

 DiISI PENUH

 BATU KOSONG

 CALTERNATIF PUING 

BATA MERAH

ISOMETRI

Tanpa Skala

 

Gambar 2. Konstruksi Sumur Resapan Air

 

Data teknis sumur resapan air yang dikeluarkan oleh PU Cipta Karya adalah sebagai berikut :

1.      Ukuran maksimum diameter 1,4 meter

2.      Ukuran pipa masuk diameter 110 mm

3.      Ukuran pipa pelimpah diameter 110 mm

4.      Ukuran kedalaman 1,5 sampai dengan 3 meter

5.      Dinding dibuat dari pasangan bata atau batako dari campuran 1 semen : 4 pasir tanpa plester

6.      Rongga sumur resapan diisi dengan batu kosong 20/20 setebal 40 cm

7.      Penutup sumur resapan dari plat beton tebal 10 cm dengan campuran 1 semen : 2 pasir : 3 kerikil.

2. Desain Konstruksi Sumur Resapan Air

    Sumur resapan air akan dapat berfungsi dengan baik, apabila didesain berdasarkan kondisi lingkungan dimana sumur tersebut akan dibuat. Desain sumur resapan air dalam hal ini meliputi bentuk, jenis konstruksi dan dimensi sumur resapan air. Menurut SNI No. 02-2453-1991Tentang Tata Cara Perencanaan Teknik Sumur Resapan Air Hujan Untuk Lahan Perkarangan diperlukan persyaratan teknis pemilihan lokasi dan jumlah sumur resapan pada pekarangan, persyaratan teknik meliputi :

1.      Umum : dibuat pada lahan yang lolos air dan tahan longsor, bebas dari kontaminasi dan pencemaran limbah, untuk meresapkan air hujan, untuk daerah dengan sanitasi lingkungan yang tidak baik hanya digunakan menampung air hujan dari talang, mempertimbangkan aspek hidrologi, geologi dan hidrologi.

2.      Pemilihan lokasi : keadaan muka air tanah dengan kedalaman pada musim hujan, permeabilitas yang diperkenankan 2 –12,5 cm/jam, jarak penempatan diperhitungkan dengan tangki septik tank 2 meter, resapan tangki septik tank/cubluk/saluran air limbah 5 meter, sumur air bersih 2 meter.

3.      Jumlah : penentuan jumlah sumur resapan air ditentukan berdasarkan curah hujan maksimum, permeabilitas dan luas bidang tanah.

 

Dalam mendesain dimensi konstruksi sumur resapan air untuk kawasan perumahan terdapat tiga parameter utama yang perlu diperhatikan yaitu : permeabilitas tanah, curah hujan, dan luas atap rumah/permukaan kedap air (Dephut, 1994). Permeabilitas tanah dapat kita tentukan berdasarkan hasil pengukuran langsung di lokasi permukiman dengan Metode Auger Hole Terbalik. Data permeabilitas tanah ini diperlukan untuk menentukan volume sumur resapan air yang akan dibuat. Curah hujan diperlukan untuk menentukan dimensi sumur resapan air. Data curah hujan yang diperlukan selama 10 tahun pengamatan (diperoleh dari stasiun hujan terdekat). Pengukuran luas atap rumah didasarkan atas luas permukaan atap yang merupakan tempat curah hujan jatuh secara langsung diatasnya.

Sedangkan untuk mendesain bentuk dan jenis konstruksi sumur resapan air diperlukan parameter sifat-sifat fisik tanah yang meliputi Infiltrasi,tekstur tanah, struktur tanah, dan pori drainase (Mulyana, 1998).

c. Pembuatan Sumur Resapan Air

Setelah diperoleh desain konstruksi (dimensi, bentuk dan jenis) sumur resapan air sesuai dengan kondisi lingkungan pada kawasan perumahan, selanjutnya dalam proses pembuatan sumur resapan air dapat dirancang dua pola penerapan yaitu: a) pembuatan secara kolektif (berdasarkan blok-blok rumah, atau untuk satu kawasan perumahan); dan b) pembuatan per-tipe rumah.

Pembuatan sumur resapan air per-blok dalam suatu kawasan perumahan harus direncanakan sejak dari awal oleh kontraktor atau developer. Pada siteplan sudah nampak jelas alokasi lahan untuk pembangunan sumur resapan air pada setiap blok (per-blok bisa terdiri dari 10 rumah atau lebih). Alternatif lain, SRA dibuat dalam bentuk danau untuk semua rumah pada suatu kawasan perumahan (seperti perumahan Bogor Lakeside), sehingga SRA berfungsi disamping untuk meresapkan air ke dalam tanah juga sebagai tempat rekreasi warga perumahan,.

SRA yang dibuat pada setiap rumah atau per-tipe rumah dapat dirancang dengan memperhatikan aspek luas perkarangan rumah dan nilai estetika, sehingga SRA dapat dibangun ke arah vertikal atau horisontal. Biaya pembuatan konstruksi SRA berkisar antara Rp. 75.000 hingga Rp.150.000,

Sumber://tumoutou.net/ dan Sunjoto, Dr. Ir. Dip.HE. “Sistem drainasi air hujan yang berwawasan lingkungan” Majalah Kontruksi No. 122, Juni 1988.

February 4, 2008 at 9:35 pm

Watershed

Watershed – A drainage basin is a region of land where water from rain or snowmelt drains downhill into a body of water, such as a river, lake, dam, estuary, wetland, sea or ocean. The drainage basin includes both the streams and rivers that convey the water as well as the land surfaces from which water drains into those channels. The drainage basin acts like a funnel – collecting all the water within the area covered by the basin and channeling it into a waterway. Each drainage basin is separated topographically from adjacent basins by a ridge, hill or mountain, which is known as a water divide or a watershed. Especially in North American usage however, watershed refers to the drainage basin itself. Other terms that can be used to describe the same concept are catchment, catchment area, catchment basin, drainage area, river basin and water basin.


February 4, 2008 at 8:36 pm

Older Posts


SELAMAT DATANG

RSS Info Gempa

  • An error has occurred; the feed is probably down. Try again later.

Tulisan sebelumnya

Yang Lagi Baca

page counter

Pengunjung Situs Ini

Pengunjung

  • 668,174 Pembaca
Pagerank

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui email.

Join 8 other followers