Lahar Dingin Sudah mencapai Jarak 9 Km

Hujan yang mengguyur daerah yogyakarta akhir akhir ini menyebabkan meluncurnya material volkanik hasil erupsi beberapa bulan yang lalu atau disebut lahar dingin, saat ini jarak luncur lahar dingin sudah mencapai 9 km di kali gendol Dan telah mencapai Sabo.

dari hasil pengamatan dapat dilihat luncuran material yang cukup besar dibarengi dengan gumpalan asap dari puncak merapi mengarah ke kali gendol.

Saat ini pemerintah kabupaten sleman telah menyiapkan tim penanggulangan bencana, pemerintah kabupaten juga menghimbau kepada masyarakat yang berada di daerah cangkringan untuk meningkatkan kewaspadaannya, Kemudian untuk para penambang pasir dilarang melakukan penambangan di daerah rawan tersebut.

December 6, 2006 at 8:43 am Leave a comment

Cara Mengelola Informasi Geografi


Secara umum proses SIG terdiri atas tiga bagian (subsistem), yaitu subsistem masukan data (input data), manipulasi dan analisis data, menyajikan data (output data). Baiklah kita akan membahasnya satu persatu dari ketiga subsistem tersebut.

1. Subsistem masukan data (input data)
  Subsistem ini berperan untuk memasukkan data dan mengubah data asli ke bentuk yang dapat diterima dan dipakai dalam SIG. Semua data dasar geografi diubah dulu menjadi data digital, sebelum dimasukkan ke komputer. Data digital memiliki kelebihan dibandingkan dengan peta (garis, area) karena jumlah data yang disimpan lebih banyak dan pengambilan kembali lebih cepat. Ada dua macam data dasar geografi, yaitu data spasial dan data atribut.

a. Data spasial (keruangan), yaitu data yang menunjukkan ruang, lokasi atau tempattempat di permukaan bumi. Data spasial berasal dari peta analog, foto udara dan penginderaan jauh dalam bentuk cetak kertas.

Data spasial dan data atribut tersimpan dalam bentuk titik (dot), garis (vektor), poligon (area) dan pixel (grid). Data dalam bentuk titik (dot), meliputi ketinggian tempat, curah hujan, lokasi dan topografi. Data dalam bentuk garis (vektor), meliputi jaringan jalan, pipa air minum, pola aliran sungai dan garis kontur. Data dalam bentuk poligon (area), meliputi daerah administrasi, geologi, geomorfologi, jenis tanah dan penggunaan tanah. Data dalam bentuk pixel (grid), meliputi citra satelit dan foto udara.

Data dalam bentuk titik, garis dan poligon silahkan lihat gambar 5.8. Sedangkan data dalam bentuk pixel, silahkan lihat gambar 5.9.

 

 
Data dasar yang dimasukkan dalam SIG diperoleh dari tiga sumber, yaitu data lapangan (teristris), data peta dan data penginderaan jauh. Berikut ini akan dibahas satu per satu mengenai data dasar tersebut.
Gambar 5.11. ini adalah citra penginderaan jauh dari satelit Systeme Probatoire de I’ Observation de la Terra (SPOT), salah satu satelit penginderaan jauh milik Perancis. Citra ini memperlihatkan permukaan bumi daerah Jepara, Jawa Tengah yang diambil (difoto) melalui satelit SPOT.

Gambar 5.11. Citra spot daerah Jepara,
Jawa Tengah.

Data penginderaan jauh dan data teristris dimasukkan ke dalam SIG, kemudian disajikan ke dalam bentuk peta, grafik, tabel, gambar, bagan, atau hasil perhitungan.

2. Subsistem manipulasi dan analisis data Subsistem ini berfungsi menyimpan, menimbun, menarik kembali data dasar dan menganalisa data yang telah tersimpan dalam komputer. Ada beberapa macam analisa data, antara lain:

a. Analisis lebar, menghasilkan daerah tepian sungai dengan lebar tertentu (lihat gambar 5.12).

Analisis lebar adalah analisis yang dapat menghasilkan gambaran daerah tepian sungai dengan lebar tertentu. Kegunaannya antara lain untuk perencanaan pembangunan bendungan sebagai penang-gulangan banjir.

Kelas

Klasifikasi

1.
2.
3.

datar
landai
agak curam

Peta 2 adalah peta vegetasi (tanaman) dengan tiga klasifikasi.

Kelas

Klasifikasi

1.
2.
3.

padi
palawija
jagung

Setelah dilakukan analisis penjumlahan aritmatika, didapat peta dengan klasifikasi baru yaitu:

Peta 3 adalah peta lereng dan vegetasi (tanaman) dengan 7 klasifikasi.

Kelas

Klasifikasi

1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.

Datar dengan tanaman padi.
Datar dengan tanaman palawija.
Landai dengan tanaman padi.
Landai dengan tanaman palawija.
Landai dengan tanaman jagung.
Agak curam dengan tamanam padi.
Agak curam dengan tenaman jagung.

3. Subsistem penyajian data (output data) Subsistem output data berfungsi menayangkan informasi geografi sebagai hasil analisis data dalam proses SIG. Informasi tersebut ditayangkan dalam bentuk peta, tabel, bagan, gambar, grafik dan hasil perhitungan. Gambar 5.15 dan 5.16 adalah contoh hasil output data yang ditayangkan sebagai informasi geografi hasil analisis data dalam proses SIG.

Gambar 5.15. Hasil output data yang menunjukkan
potensi aliran permukaan di DAS Pheasant Branch di
Wisconsin (Amerika Serikat). Makin gelap simbol, makin
tinggi potensi aliran sungainya.

December 3, 2006 at 3:42 am 3 comments

Pengelolaan Sistem Informasi Geografi (SIG)

Pengelolaan SIG ini meliputi, sumber informasi geografi, komponen-komponen SIG dan cara mengelola informasi geografi.

Sumber Informasi Geografi

Sumber informasi geografi selalu mengalami perubahan dari waktu ke waktu (bersifat dinamis), sejalan dengan perubahan gejala alam dan gejala sosial. Dalam geografi, informasi yang diperlukan harus memiliki ciri-ciri yang dimiliki ilmu lain, yaitu:
1. Merupakan pengetahuan (knowledge) hasil pengalaman.
2. Tersusun secara sistematis, artinya merupakan satu kesatuan yang tersusun secara berurut dan teratur.
3. Logis, artinya masuk akal dan menunjukkan sebab akibat.
4. Objektif, artinya berlaku umum dan mempunyai sasaran yang jelas dan teruji.

Selain memiliki ciri-ciri tersebut di atas, geografi juga harus menunjukkan ciri spasial (keruangan) dan regional (kewilayahan). Aspek spasial dan regional merupakan ciri khas geografi, yang membedakannya dengan ilmu-ilmu lain.

Karena geografi merupakan kajian ilmiah mengenai gejala alam dan sosial dari sudut pandang spasial dan regional, maka informasi geografi bersumber dari:

1. Gejala-gejala litosfer
  Gejala-gejala ini meliputi relief dan topografi, jenis tanah dan batuan,

serta sistem pelapisan batuan. Contoh informasi geografi yang berasal

dari gejala litosfer lihat gambar di bawah ini.

  Keterangan gambar 5.1.
Peta di atas berjudul: Persebaran tanah di Indonesia. Peta tersebut

menggambarkan tentang persebaran jenis tanah di Indonesia

berdasarkan proses terjadinya.Berdasarkan keterangan peta:
a. putih, tanah vulkanik yaitu tanah ini banyak dipengaruhi oleh

vulkanik (letusan gunung api).
b. agak hitam, tanah non vulkanik yaitu tanah yang terbentuk pada

zaman tertier (akibat pelapukan).
c. hitam, tanah rawa (aluvial) yaitu tanah yang terbentuk dari hasil

sedimentasi (pengendapan), umumnya berada di kawasan pantai landai.

   
2. Gejala-gejala hidrosfer
  Keterangan gambar 5.2.
Judul peta:
Daerah dangkalan Sunda dan dangkalan Sahul. Peta tersebut

menggambarkan tentang daerah dangkalan di Indonesia yaitu

dangkalan Sunda di sebelah Barat dan dangkalan Sahul di sebelah Timur.

Dangkalan adalah laut yang kedalamannya kurang dari 200 meter,

merupakan relief dasar

laut yang menurun perlahan-lahan (landai) mulai dari pantai ke arah

tengah lautan.

Berdasarkan keterangan peta:
3. Gejala-gejala atmosfer
  Gejala ini berkaitan dengan informasi tentang cuaca dan iklim, termasuk

unsur-unsurnya dan faktor yang mempengaruhinya. Contoh informasi

geografi yang berasal

dari gejala atmosfer, perhatikan gambar 5.3.

  Keterangan gambar 5.3.
Peta di atas meng-gambarkan persebaran curah hujan berdasarkan

besarnya curah hujan (dalam milimeter) dalam setahun untuk wilayah

Indonesia dan negara-negara Asia Tenggara. Untuk membedakan

besar curah hujan, silahkan lihat keterangan peta.

   
4. Gejala-gejala biosfer
  Gejala biosfer berkaitan dengan tumbuhan, hewan dan manusia, yang

sangat dipengaruhi oleh unsur litosfer, hidrosfer dan atmosfer.

Contoh informasi geografi yang berasal dari gejala biosfer adalah

persebaran sumber daya alam hayati (hidup) Indonesia,

(lihat gambar 5.4).

  Keterangan gambar 5.4.
Berdasarkan judul, peta di atas menggambarkan tentang persebaran

sumberdaya alam hayati (hidup) di Indonesia. Dari peta ini kita dapat

mengetahui daerah mana saja di Indonesia yang banyak menghasilkan

ikan tuna, kelapa, pala dan lainnya.

   
5. Gejala-gejala sosial budaya
  Gejala ini berkaitan dengan kehidupan masyarakat antara lain kemajuan

ilmu pengetahuan dan teknologi yang semakin pesat. Contoh gejala sosial

budaya yang merupakan sumber informasi geografi, yaitu persebaran

obyek wisata kabupaten Banyumas, Jawa Tengah.

             
             

December 3, 2006 at 3:34 am 9 comments

Pola Pergerakan Angin di Indonesia

Di dalam kegiatan 1 tentu Anda masih ingat, bahwa salah satu unsur cuaca dan iklim adalah angin. Angin adalah udara yang bergerak dari daerah bertekanan udara tinggi ke daerah bertekanan udara rendah. Berarti angin terjadi karena adanya perbedaan tekanan udara.

Di daerah tropis akan terjadi angin dari daerah maksimum subtropis ke daerah minimum equator. Angin ini disebut angin passat timur laut di belahan bumi utara dan angin passat tenggara di belahan bumi selatan. Angin passat banyak membawa uap air karena berhembus di laut lepas. Akan tetapi pada beberapa wilayah di permukaan bumi angin passat tersebut mengalami perubahan arah akibat pengaruh lingkungan setempat.

Di Indonesia yang secara geografis terletak di antara dua benua (Asia dan Australia) dan dua samudera serta letak matahari yang berubah setiap enam bulan berada di utara dan enam bulan berada di selatan khatulistiwa, maka angin passat tersebut mengalami perubahan menjadi angin muson (angin musim) barat dan angin muson timur.

a.

Angin Muson Barat
Angin muson barat berhembus pada bulan Oktober – April, matahari berada di belahan bumi selatan, mengakibatkan belahan bumi selatan khususnya Australia lebih banyak memperoleh pemanasan matahari daripada benua Asia. Akibatnya di Australia bertemperatur tinggi dan tekanan udara rendah (minimum). Sebaliknya di Asia yang mulai ditinggalkan matahari temperaturnya rendah dan tekanan udaranya tinggi (maksimum).

Oleh karena itu terjadilah pergerakan angin dari benua Asia ke benua Australia sebagai angin muson barat. Angin ini melewati Samudera Pasifik dan Samudera Indonesia serta Laut Cina Selatan. Karena melewati lautan tentunya banyak membawa uap air dan setelah sampai di kepulauan Indonesia turunlah hujan. Setiap bulan November, Desember, dan Januari Indonesia bagian barat sedang mengalami musin hujan dengan curah hujan yang cukup tinggi.

 

December 3, 2006 at 3:21 am 18 comments

Pola Umum Curah Hujan di Indonesia

Pola umum curah hujan di Indonesia antara lain dipengaruhi oleh letak geografis. Secara rinci pola umum hujan di Indonesia dapat diuraikan sebagai berikut:

  1. Pantai sebelah barat setiap pulau memperoleh jumlah hujan selalu lebih banyak daripada pantai sebelah timur.

  2. Curah hujan di Indonesia bagian barat lebih besar daripada Indonesia bagian timur. Sebagai contoh, deretan pulau-pulau Jawa, Bali, NTB, dan NTT yang dihubungkan oleh selat-selat sempit, jumlah curah hujan yang terbanyak adalah Jawa Barat.

  3. Curah hujan juga bertambah sesuai dengan ketinggian tempat. Curah hujan terbanyak umumnya berada pada ketinggian antara 600 – 900 m di atas permukaan laut.

  4. Di daerah pedalaman, di semua pulau musim hujan jatuh pada musim pancaroba. Demikian juga halnya di daerah-daerah rawa yang besar.

  5. Bulan maksimum hujan sesuai dengan letak DKAT.

  6. Saat mulai turunnya hujan bergeser dari barat ke timur seperti:
    1) Pantai barat pulau Sumatera sampai ke Bengkulu mendapat hujan terbanyak pada bulan November.
    2) Lampung-Bangka yang letaknya ke timur mendapat hujan terbanyak pada bulan Desember.
    3) Jawa bagian utara, Bali, NTB, dan NTT pada bulan Januari – Februari.

  7. Di Sulawesi Selatan bagian timur, Sulawesi Tenggara, Maluku Tengah, musim hujannya berbeda, yaitu bulan Mei-Juni. Pada saat itu, daerah lain sedang mengalami musim kering. Batas daerah hujan Indonesia barat dan timur terletak pada kira-kira 120( Bujur Timur.


Rata-rata curah hujan di Indonesia untuk setiap tahunnya tidak sama. Namun masih tergolong cukup banyak, yaitu rata-rata 2000 – 3000 mm/tahun. Begitu pula antara tempat yang satu dengan tempat yang lain rata-rata curah hujannya tidak sama.

Ada beberapa daerah yang mendapat curah hujan sangat rendah dan ada pula daerah yang mendapat curah hujan tinggi:

  1. Daerah yang mendapat curah hujan rata-rata per tahun kurang dari 1000 mm, meliputi 0,6% dari luas wilayah Indonesia, di antaranya Nusa Tenggara, dan 2 daerah di Sulawesi (lembah Palu dan Luwuk).

  2. Daerah yang mendapat curah hujan antara 1000 – 2000 mm per tahun di antaranya sebagian Nusa Tenggara, daerah sempit di Merauke, Kepulauan Aru, dan Tanibar.

  3. Daerah yang mendapat curah hujan antara 2000 – 3000 mm per tahun, meliputi Sumatera Timur, Kalimantan Selatan, dan Timur sebagian besar Jawa Barat dan Jawa Tengah, sebagian Irian Jaya, Kepulauan Maluku dan sebagaian besar Sulawesi.

  4. Daerah yang mendapat curah hujan tertinggi lebih dari 3000 mm per tahun meliputi dataran tinggi di Sumatera Barat, Kalimantan Tengah, dataran tinggi Irian bagian tengah, dan beberapa daerah di Jawa, Bali, Lombok, dan Sumba.

Perlu Anda ketahui pula bahwa hujan terbanyak di Indonesia terdapat di Baturaden Jawa Tengah, yaitu curah hujan mencapai 7,069 mm/tahun. Hujan paling sedikit di Palu Sulawesi Tengah, merupakan daerah yang paling kering dengan curah hujan sekitar 547 mm/tahun.

December 3, 2006 at 3:17 am 115 comments

Hawking : Manusia Harus Jadikan Planet Lain Koloni

Hawking : Manusia Harus Jadikan Planet Lain Koloni

Manusia harus bisa menjadikan planet-planet di sistem tata-surya lain sebagai koloninya dan melakukan perjalanan ke sana dengan menggunakan daya dorong seperti “Star Trek”, atau menghadapi kepunahan, kata ahli kosmologi terkenal Inggris, Stephen Hawking, Kamis.

Menunjuk pada teori-teori rumit dan kecepatan cahaya, Hawking, fisikawan Universitas Cambridge yang menggunakan kursi roda, mengatakan kepada BBC, kemajuan teori bisa merevolusi kecepatan perjalanan antariksa dan membuat koloni semacam itu bisa terwujud.

“Cepat atau lambat bencana seperti hantaman asteroid atau perang nuklir bisa menyapu kita semua,” kata Profesor Hawking, yang lumpuh akibat penyakit otot pada usia 21 tahun dan berbicara melalui alat penyatu suara komputer.

“Namun jika kita menyebar ke ruang angkasa dan membentuk koloni-koloni independen, masa depan kita akan aman,” kata Hawking, yang dijadwalkan menerima penghargaan tertua dunia untuk prestasi ilmiah, Medali Copley, dari Masyarakat Kerajaan Inggris pada Kamis.

Para ilmuwan tedahulu yang juga menerima penghargaan tersebut mencakup Albert Einstein dan Charles Darwin.

Untuk bisa bertahan hidup, manusia harus melakukan perjalanan ke planet-planet lain yang mengorbit bintang lain, namun roket bahan bakar kimia konvesional yang membawa manusia ke Bulan dalam misi Apollo akan memerlukan waktu 50.000 tahun untuk mencapai tempat itu, katanya.

Hawking, ilmuwan berusia 64 tahun dengan tiga anak yang jarang melakukan wawancara dan menulis buku terlaris “A Brief History of Time”, menyatakan bahwa tenaga pendorong seperti yang digunakan dalam pesawat fiksi Enterprise “untuk pergi ke tempat yang belum pernah dikunjungi manusia sebelumnya” bisa membantu mengatasi masalah itu.

“Fiksi ilmiah mengembangkan gagasan pendorong warp, yang bisa membawa anda seketika ke tempat tujuan anda,” katanya, seperti dikutip Reuters.

“Sayangnya, ini akan melanggar hukum ilmiah yang mengatakan bahwa tidak ada sesuatu yang bisa bergerak lebih cepat daripada cahaya,” tambahnya.

Namun, dengan menggunakan sistem “pelenyapan zat/antizat”, kecepatan di bawah kecepatan cahaya bisa dicapai, sehingga memungkinkan perjalanan ke bintang terdekat dalam waktu sekitar enam tahun.

“Itu tampaknya tidak terlalu lama bagi mereka yang berada di dalam pesawat,” katanya.

Ilmuwan tersebut menyatakan, ia juga ingin melakukan perjalanan ke luar angkasa, meski dengan cara yang lebih konvensional.

“Saya tidak takut mati, namun saya tidak buru-buru untuk mati. Tujuan mendatang saya adalah pergi ke angkasa,” kata Hawking. (*)

Copyright © 2006 ANTARA

December 3, 2006 at 2:59 am 1 comment

Clinton berkunjung ke Aceh
Mantan Presiden Amerika serikat Clinton beberapa hari yang lalu meninjau pembangunan tempat tinggal permanen bagi para korban Tsunami di Aceh. “Hanya 30 to 35 persen pembangunan rumah permanen yang telah dibangun

Clinton Tours Tsunami-Devastated Areas

December 2, 2006 at 10:14 pm Leave a comment

Older Posts Newer Posts


SELAMAT DATANG

RSS Info Gempa

  • An error has occurred; the feed is probably down. Try again later.

Tulisan sebelumnya

Yang Lagi Baca

page counter

Pengunjung Situs Ini

Pengunjung

  • 624,085 Pembaca
Pagerank

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui email.

Join 8 other followers